Selasa, 12 Mei 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 19 Absurd




19 Ramadan 1441 H


Hai hai, hai!

Balik lagi nih Nunii-nya, ya emang selalu balik sih kan ini program 30 Hari Bercerita #SpesialRamadan. Jadi selama itu pulalah Nunii akan menghantui kalian dengan curahan-curahan gaje Nunii. Hihihi.

Oke, kali ini Nunii bakal ngebahas hal-hal absurd.
Siap-siap ya dengerin, eh maksudnya yang fokus bacanya tapi kalau gak mau juga gak apa-apa sih. Hehehehe.

Kalian pernah ngerasain gak, ngomong hal-hal gaje tapi seru. Terus ngomongnya tuh muter-muter, misalnya nih ya pertama kalian ngomong perihal diri kalian, lama-lama jadi orang yang lewat-lewat, sampai-sampi berujung ke masalah kenapa bumi itu bulat?

Ya gak sih?

Kadang juga kalian perdebatkan hal-hal yang seharusnya gak perlu kalian perdebatkan.
Kalau yang ini sih, aku sering banget sama sahabat-sahabatku.
Utamanya soal nama sebuah benda atau apalah sesuai daerah masing-masing.
Asli kocak banget, malah ada yang ketawa kalau nama dari daerahnya yang paling aneh.
Tapi seru sih.

Kadang juga, sangking serunya tuh, kita gak nyadar waktu.
Kita gak tahu dari tuh ngebahas apa.

Ya sama kayak sekarang sih, aku gak tahu mau ngomong apa.
Ya, ngomong aja yang terlintas di pikiran aku sih.

Biar fresh gitu, gak merasa terbebani. Hahaha.

Kalau kalian pusing ngebacanya, ya maap-maap aja nih.
Bukan salah aku juga kan, karena udah bilang di awal.
Tuh di judul episode kali ini.

Hehehehe.

Oke deh, cukup sekian.

Semoga besok bisa bahas yang lebih berfaedah dari sekarang ya.


Dadaaahhh..




_kaknun

Senin, 11 Mei 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 18 Move On




18 Ramadan 1441 H

Halo guys!

Kali ini gua bakal ngebahas perihal move on.

Abisnya banyak yang beranggapan kalau move on perihal melupakan dan mencari hati yang baru. Padahal nyatanya tuh gak kayak itu sih menurutku.

Bagi gua, move on perihal terbiasanya hati tanpa dia meski dianya ada di depan mata.
Jadi, kalau lo beranggapan perihal ngelupain ntar kalau sampai lo ketemu sama dia, lo gak jadi deh ngelupainnya yang malah keinget.
Tapi kalo lo terbiasa, mau dia ada atau engga. Ya gak ada pengaruhnya lagi sama diri lo.

Terus, ini lagi katanya move on adalah mencari hati yang baru.

Jelas ini juga keliru guys, karena pada dasarnya gak semua orang yang nemuin hal baru itu lupa sama sebelumnya. Gitu pun sebaliknya, gak semua yang gak memuin hal baru juga gak bisa move on. Bisa aja mereka udah move on, cuma udah gak mau cari lagi, alias capek. Soalnya udah tahu ujung-ujungnya bakal kandas juga.

Intinya mah, tergantung sama presepsi kalian sih.

Tapi perlu kalian garis bawahi bahwa  move on itu bukan tentang melupakan atau nyari yang lain, bukan guys, sekali lagi bukan.

Sebab, move on itu bagi gua adalah perihal terbiasanya hati tanpa dia meski dianya ada di depan mata.



_kaknun 

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 17 Ide Gak Ada Akhlak



17 Ramadan 1441 H

Aku gak tahu sih, apakah kalian juga ngerasain atau enggak? Tapi jujur, aku tuh sering ngalamin, berkali-kali malah. Apa lagi kalau bukan karena ide?

Ide?


Sebagai mana ocehan aku di twitter, bunyinya kayak gini:
"Ide itu kadang gak ada akhlak.
Datangnya pas kita lagi sibuk atau di jalan, pas udah santai gak ada kerjaan langsung hilang tuh ide.

Aku tuh gak bisa diginiin tahu."

Bener gak ocehan aku?
Kalau aku sih, tentu bener soalnya aku yang ngalamin gak tahu deh kalau kalian.

Bagiku, ide itu emang kadang nyebelin tahu.
Pas lagi nyapu, tiba-tiba datang.
Pas duduk, eh malah hilang lagi.

Dia tuh semacam jelangkung, datang gak diundang terus tahu-tahu hilang itu aja.

Benar-benar kan itu ide.

Makanya, dosen aku tuh pernah bilang.
Katanya kalau langsung dapat ide tuh jangan dimolor-molorin nulisnya, ntar dia hilang. Soalnya dia itu datangnya cuma sebentar doang, gak menetap (kayak doi tuh, datang tiba-tiba, hilang gak ngasih tahu)
Jadi, tiap bepergian tuh sediain catatan kecil biar kalau idenya datang langsung nulis.

Tapi yang jadi pemikiranku, giman kalau idenya itu pas kita lagi mandi atau di jalan ngendarain kendaraan?
Apa perlu kita berenti mandi, atau tepiin kendaraan supaya bisa nulis gitu?


_kaknun

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 16 Percaya Diri

https://www.instagram.com/p/B5QWpXcnhY0/



16 Ramadan 1441 H

Beberapa di antara kita terkadang merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki, selalu membandingkan dengan kepunyaan orang lain. Hingga membuat diri sendiri terzolimi, padahal kita sendirilah yang tak bersyukur atas hal-hal yang diberikan Tuhan pada kita.

Mereka yang tampil sempurna, belum tentu mereka sempurna beneran. Boleh jadi, dibelakang mereka amatlah menyedihkan.
Mereka yang selalu tampil dengan baik atau buruknya, tak melulu seperti apa yang kita lihat.
Beberapa orang terkadang terlihat baik-baik saja, namun nyatanya tidak sama sekali.
Mereka hanya merasa tidak perlu dikasihani, mereka merasa bahwa hidup ini perihal bahagia. Makanya, mereka selalu tampil sempurna meski kenyataannya tidak begitu.

So, buat kalian yang gak percaya diri.

Mulai hari ini dan hari-hari berikutnya, berusahalah untuk tampil percaya diri dengan apa yang kamu miliki.

Bahagia bukan perihal sempurna atau baik, tapi perihal cara kita mencintai diri sendiri. :)


Jangan putus asa ya? :)



_kaknun

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 15 Mencintai atau Dicintai?







15 Ramadan 1441 H

Sebenarnya topik kita kali ini tuh udah basi banget, bahkan udah dibahas berkali-kali. Tapi aku ngerasa pengen aja sih ngangkat topik ini, soalnya banyak diluar sana selalu mempertanyakan lebih baik mana sih mencintai atau dicintai?

Ya, denger pertanyaannya aja kok aku ngerasa aneh gitu, bikin greget deh pokoknya.
Bukannya itu sama saja memberi kita sebuah pilihan yang mana pilihannya itu kayak mengarah mana yang baik dan buruk. Semacam dibandingin gitu, ya gak sih?

Padahal ini dalam sebuah hubungan loh, yang mana dalam hubungan bukan hanya dijalani satu orang aja melainkan dua orang yang saling berkomitmen.

So, perihal mencintai dan dicintai itu pasti adalah.
Kamu mencintai, pasti dicintai. Gitu pun sebaliknya, kamu dicintai otomatis kamu juga harus mencintai.
Jadi tuh, dalam hubungan timbal balik. Bukan sepihak doang.
Gak ada yang ngerasa lebih dan gak ada yang ngerasa kekurangan.
Semuanya sama-sama ngerasain mencintai dan cintai.


Sesimpel itu sih menurutku.





_kaknun

Kamis, 07 Mei 2020

30 Hari Bercerita #Spesial Ramadan - Episode 14 Kata Selamat Tinggal!



14 Ramadan  1441 H

Bagi beberapa orang kata "selamat tinggal" itu perlu diucapkan sebelum pamit. Namun bagi beberapa lainnya, merasa itu tidak perlu, memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Baginya mengucapkan atau tidak diucapkan, itu sama sekali tidak penting untuk sebuah kepergian yang nyatanya tak akan berujung pertemuan.
Ada baiknya, pergi tanpa alasan meninggalkan bekas kenangan dibanding mengucap selamat tinggal yang menambah luka tak berangsur sembuh.
Selamat tinggal...
Itu hanyalah dua kata menyakitkan, yang tak pantas diucapkan.
Seharusnya kata itu tak perlu ada, seharusnya para pakar bahasa tak menemukan kalimat itu.
Selamat dan tinggal?
Hei!
Mana ada orang merayakan peninggalan, itu terlalu menyakitkan bagi mereka yang terlalu nyaman dengan kebersamaan.
Jadi kumohon, jangan lagi merayakan perpisahan dengan kata "selamat tinggal".
Bila ingin pergi dan tak ingin berniat kembali, seharusnya kau pergi saja.
Kecuali bila niatmu memang kembali, cukup kau ucap "sampai jumpa".
Itu membuat kami yang ditinggal merasa punya harapan. :)



_kaknun

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 13 Tak Butuh


 https://www.instagram.com/p/B7_htm9HD_P/





13 Ramadan 1441 H

Rasanya aku ingin menghilang dari bumi saja.
Bukan karena aku lelah dengan segala sandiwara yang ada, tetapi karena aku merasa sudah tak dibutuhkan lagi oleh penduduk bumi.
Terlalu menyakitkan bila kita masih bertahan pada situasi yang jelas-jelas tak menginginkan keberadaan kita.
Pergi?
Hilang?
Ku pikir itu adalah suatu keputusan yang bijak untuk orang terlanjur kecewa sepertiku.


_kaknun

Selasa, 05 Mei 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 12 Satu Sore Bersamamu






12 Ramadan 1441 H

Dari riburan harap yang kupinta kepada Tuhan, salah satunya ialah aku ingin kembali menikmati satu sore bersamamu.
Di belakang rumah, kita akan menikmati hari mengabur dengan bersenda gurau.
Kamu yang mendorong ayunanku dengan kecang, dan aku yang berteriak kegirangan.
Tawamu meledak berbaur dengan teriakanku.
Sesekali kamu iseng mendorongnya lebih kuat lagi, sampai-sampai aku menangis histeris.
Hingga bermain ayunan pun berenti, kamu sibuk membujukku agak tidak menangis.
Tapi, sayang sekali.
Aku yang tak terima malah membuatmu semakin kewalahan dengan pura-pura menangis.
Membuatmu rela-rela pergi ke kedai seberang demi membelikanku sebuah es krim yang kupinta tiba-tiba.
Kamu tentu saja tak protes, kenapa?
Ya, karena aku tahu kau sangat menyayangiku bukan?
Apapun yang kupinta kau akan berusaha mengabulkannya.
Seperti saat ini.
Namun, agaknya aku keliru.
Semesta punya rencana lain untuk kita.
Setengah jam aku menanti, kau tak kunjung kembali.
Sedikit cemas, hingga entah kenapa kakiku menuntunku untuk menghapirimu di kedai itu.
Dan, apa yang kulihat?
Es krim mencari berbaur dengan darah yang mengalir, bukan lagi senda gurau kita.
Satu sore bersamamu saat itu entah mengapa perlahan berubah jadi abu.
Suram.
Kabut di mana-mana.
Rupanya, gerimis.
Jatuh membuat aliran sungai di pipi.
Satu soreku bersamamu, kini tinggal harap yang terdekap.





_kaknun

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 11 Bunga di Pagar






11 Ramadan 1441 H

Bila harus memilih, aku seharusnya menjadi bagian atas segala hal yang kamu lakukan.
Bukan menjadi batas.
Aku mungkin hanya sebuah bunga.
Rela tumbuh di pagar batasanmu, tak peduli bahwa sejujurnya aku juga ingin seperti yang lain.
Kau rawat dengan sayang, kau beri pupuk, kau sirami penuh cinta, berderatan rapi dengan pot-pot bersama bunga-bunga lainnya.
Apalah aku?
Hanya sebatas bunga di pagaran.
Hidup dan matiku, tergantung semesta mengirimkan air atau musim yang membuatku layu.
Dedaunnya pun entah berpijak ke mana, turun pasrah mengikuti embusan angin melanglang buana.




_kaknun

Senin, 04 Mei 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 10 Senja dan Secangkir Teh


10 Ramadan 1441 H

Kau tahu?
Salah satu impian terbesarku bersamamu ialah selalu meluangkan waktu menikmati secangkir teh sembari menatap senja di beranda rumah.
Kita berbagi cerita suka dan duka, mengeluarkan keluh kesah kita seharian dan mengobati rindu setelah tanpa kabar dua belas jam.
Aku dengan senang hati mendengarmu, menikmati senja yang masuk di bola mata indahmu dengan bulu mata lentik yang berhasil menghipnotisku.
Setelah itu, giliranmu yang mendengarku bercerita.
Matamu akan menatap tajam mataku, mencari-cari celah dimana letak kebohonganku.
Tapi, tetap saja kau tak akan berhasil.
Sebab, garis lengkung yang tercipta di bibirku sempurna membuatmu lupa niat awalmu.
Tak lama setelah itu, gema tawa terdengar di antara kita berdua.
Kamu dengan sayang mengusap puncak kepalaku, yang perlahan menyandarkannya di bidang dadamu.
Kita, senja, dan secangkir teh.
Aku ingin menikmatinya tanpa harus berjeda.
Tidak seperti saat ini.
Menyaksikan goresan jingga, hanya bersama fotomu yang berhasil kuabadikan sebelum kau benar-benar menjadi bayangan.




_kaknun

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 9 Rindu

9 Ramadan 1441 H
Tiap pagi, aku selalu menatap jendela kamarku.
Berharap hembusan angin menerpaku dan membawakan pesan darimu.
Atau kicauan burung yang bertengger di ranting pohon, mengabarkan kabar darimu entah berada di mana.
Selalu aku harapkan.
Setiap pagi, setiap bangun tidurku.
Namun nyatanya, hingga bumi telah berevolusi.
Aku tak pernah mendapat pesan atau kabar apapun.
Waktu yang terus berjalan perlahan menyadarkanku.
Bahwa sesungguhnya, hanya aku yang berharap, hanya aku yang rindu.
Sementara kamu?
Tidak sama sekali. :(





_kaknun

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 8 Ombak?

 
8 Ramadan 1441 H
 
Ombak?
Kalian semua pasti pernah liat ombak kan? Entah itu langsung atau cuma nyaksiin di TV.
Bagiku, ombak itu ibarat sebuah perjalanan.
Di mana dalam sebuah ombak akan menemukan batu karang atau perahu nelayan.
Namun, apapun itu ia akan tetap berakhir di pelukan pesisir pantai.
Sama seperti sebuah perjalanan akan menemukan banyak hal, jatuh dan bangun menghadapi rintangan tersebut.
Suatu saat akan kembali ke tempat pulang yang sesungguhnya. :)




_kaknun

Kamis, 30 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 7 Pilihan






7 Ramadan 1441 H

Hidup ini adalah sebuah pilihan.
Apapun pilihanmu, semoga kau teguh menghadapinya dan bertanggung jawab atasnya.
Sebab, tak ada pilihan yang mudah, dan tak ada pilihan yang lancar-lancar saja.
Akan selalu ada badai yang siap menghadap, akan selalu ada resiko yang siap membuatmu menjadi putus asa.

Terus saja berjuang!


Jangan patah semangat!




_kaknun

Rabu, 29 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 6 Melawan Ego


6 Ramadan 1441 H

Kita gak bakal tahu sejauh mana kemampuan kita kalau tidak mencoba menguji kemampuan kita sendiri dengan mengikuti sebuah kompetisi.
Makanya untuk pertama kalinya aku ngikutin sebuah kompetisi terbesar untuk sebuah kepenulisan.
Aku gak berharap untuk jadi pemenang di antara banyak orang.
Cukup jadi pemenang melawan ego sendiri yang bermalas-malasan beresin naskah.
Sebab pesaing kita sebenarnya bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.
Jadi, semoga kita bisa melawan ego masing-masing yang bisa membuat kita jauh dari kata sukses.
Semoga, tetap semangat menjalani hidup dan selalu mengasa kemampuan.


Semangat!




_kaknun

Selasa, 28 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 5 Mengabadikan Nama


5 Ramadan 1441 H

Aku tahu, jatah hidup kita di dunia ini cuma sebentar. Makanya aku menulis, selain karena aku menyenangi kegiatan ini juga dapat mengabadikan namaku seperti  Chairil Anwar yang namanya hidup seribu tahun meski raganya telah ditelan bumi puluhan tahun.

Biarkan saja penaku menjelaskan, kala mulut telah dibungkam.
Biarkan saja penaku menerkam, mencabik-cabik hati yang tak berperasaan.

Suatu saat mereka paham, ucapan selalu kalah dengan kata yang berakhir di keabadian.





_kaknun

Senin, 27 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 4 Buku dengan Akhirnya

 
4  Ramadan 1441 H
 
Bagiku, setiap orang punya buku dan menjadi peran utamanya. Sebagai peran utama, kadang bersinggungan dengan hidup orang lain yang menjadi figuran dalam buku kita. Pun sama dengan kita yang menjadi figuran orang lain di dalam bukunya.
Dan setiap buku akan selalu memiliki akhir. Ini yang perlu kita garis bawahi, sebab bagi beberapa orang, akhir itu ada dua macam yakni bahagia atau sedih. Aku tak menyalahkannya, karena disetiap cerita fiksi yang bertebaran di kehidupan kita memang begitulah akhirnya, malah ada yang tidak memiliki akhir sama sekali atau dengan kata lain gantung membuat kita bertanya-tanya seperti apa akhir si tokoh utama.
Berbeda dengan kehidupan kita sesungguhnya.
Bagiku, akhir dari setiap buku kita haruslah menjadi indah.
Kenapa?
Sebagai peran utama, seharusnya kita menciptakan sendiri akhir bahagia kita. Bila nyatanya kita berakhir menyedihkan, percayalah itu bukanlah akhir sesungguhnya. Tuhan sedang menguji, sampai mana batas kemampuan kita dan sebagai peran utama harusnya kita tak perlu terpuruk terlalu lama.
Bangkit!
Maju terus, lewati keterpurukan itu.
Karena depan sana, ada bahagia menunggu dengan segala kejutan Tuhan yang diciptakan untuk kita.
Jadi, jangan merasa hidup ini sia-sia, ya?!
Kita  adalah tokoh utama dalam cerita hidup kita dan akan berakhir indah dengan cara yang indah pula.
 
 
 
 
 
-kaknun

Minggu, 26 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 3 Hati yang Berharap



3 Ramadan 1441 H

Perihal hati  yang berharap, ada kalanya akan lenyap.
Entah karena lelah atau karena resah.
Aku bukannya menghakimi, tapi lebih kepada  menasihati. Bahwa sesungguhnya, tiap orang akan punya batas menyerah.
Memilih pergi bukan karena dia kalah, melainkan atas kesadaran diri.
Menyelamatkan hati dari patahan itu lebih baik dibanding bersusah payah cari penawar  atas hati yang terluka.

Kepada hati yang berharap,
Aku tidak menggurui!
Aku hanya ingin menyampaikan, bila  dari awal engkau sudah ragu atas segala  keputusan yang kau ambil, alangkah baiknya kau harus berhenti dari sekarang.
Sebab, menjalani sesuatu dengan keragu-raguan tak akan pernah membuatmu berhasil sampai di tempat tujuan.

Dan, buatmu yang sudah mantap sejak dulu,
Semoga harapmu tak membuatmu sekarat atas segala keputusan yang berbalik menikam.
Terkadang, Tuhan sering menegur lewat hal-hal yang membuat kita tergiur.




_kaknun

Sabtu, 25 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 2 Penantian Seorang Perempuan



2 Ramadan 1441 H

Bagiku hal yang paling melelahkan bagi seorang perempuan ialah menunggu. Lebih-lebih menunggu tanpa sebuah kepastian.
Ia akan merasa bimbang jika ada sosok pemuda datang menemui walinya dan meminta dirinya yang mana sosok itu bukanlah sosok yang ia tunggu.
Mau menerima, tapi bukan dia yang kita pinta.
Mau menolak, takutnya yang ditunggu malah bertolak.
Ah! Amat sulit bukan?
Menjadi seorang perempuan memang  tak pernah salah, menempatkan sebuah nama di hati kita pun juga tak pernah salah. Sebagaimana yang kita tahu, kita tak pernah tahu dengan siapa dan karena siapa kita menjatuhkan hati pada seseorang.
Perasaan gak pernah salah.
Bila begitu, lantas apa yang salah?
Sejujurnya aku juga tak bisa menjawab pertanyaan itu, namun aku berpikiran bahwa yang salah adalah presepsi kita akan sesuatu.
Menunggu sosok tanpa kepastian memang tak pernah salah, but saat sosok itu nyatanya tak pernah datang, janganlah kau menyesali apa yang pernah kau jalani.
Ubah sudut pandang kita, boleh jadi kau akan menemukan sosok yang benar-benar memikat hatimu atau mungkin saja dia yang kau sebut dalam doa.
So, jangan pernah menyalahkan apapun.
Perihal menunggu misalnya.
Dan buat yang menunggu, selamat menanti! Apa yang kau tanam, kelak akan kau tunai. :)

Jumat, 24 April 2020

Cerpen - Pelangi by Sri Wahyuni





Hari ini, hujan mengguyur kotaku. Titik-titik airnya tanpa bosan jatuh menyentuh tanah, menimbulkan keributan di atas genting. Aku yang duduk di halte hanya bisa menghela napas dan menatap pasrah, sepertinya hari ini aku terlambat pulang lagi. Sesekali aku menggosokkan kedua tanganku, dingin yang ditimbulkan hujan benar-benar menusuk sampai tulang-belulangku.
Dari tempatku duduk, samar-samar kulihat beberapa kendaraan baik yang beroda dua ataupun empat hilir mudik di jalanan. Suaranya beradu dengan suara yang ditimbulkan hujan. Kulirik jam yang bertengger di pergelangan kiriku, jarum pendeknya menunjukkan perantara angka empat dan lima, sedangkan jarum panjangnya menunjukkan angka enam. Itu artinya sudah pukul 4.30, dan sudah dua setengah jam aku duduk di sini-menunggu hujan reda.
Tak banyak yang aku lakukan, selain duduk menunggu hujan reda serta menyaksikan kendaraan yang berlalu-lalang, aku juga mencoba menghitung titik-titik air. Ya, meski yag kuhitung adalah bunyi air yang jatuh menyentuh atap halte. Sesukaku.
Tak lama kemudian, tiba-tiba sebuah angkot berhenti di depanku dan menurunkan seseorang yang akhirnya berteduh bersamaku di halte. Ia memilih berdiri di ujung semeter dari tempatku duduk.
“Sial!” pekiknya, tangan kanannya mengacak-acak rambutnya.
Aku menoleh padanya, raut wajahnya menggambarkan kekesalan.
Tiba-tiba, pandangannya menoleh ke arahku. Deg! Aku tertangkap basah menatapnya, sedetik aku langsung memaksakan kedua ujung bibirku terangkat berusaha tersenyum. Dia membalas senyumku.
“Kamu tahu gak? Hujan itu masalah,” katanya mulai membuka percakapan di antara kami.
Aku tersenyum menanggapi pernyataannya.
“Coba kau lihat, rintiknya yang jatuh itu menimbulkan banyak masalah. Banyak pekerjaan yang tertunda karenanya, aktivitas jadi terhambat, dan lebih dari itu ….”
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah mobil truk melaju kencang di depan hingga menimbulkan cipratan air ke arah kami.
“Nah, ini juga. Habis sudah bajuku,” gerutunya membersihkan bajunya habis terkena cipratan air, aku juga melakukan hal yang sama meski tidak mengomel-ngomel seperti dirinya.
“Sekarang sudah pukul berapa?” tanyanya padaku.
Aku langsung memperlihatkan jam yang melingkar di pergelangan kiriku, menyuruh ia untuk melihatnya sendiri.
“Sial-sial-sial,” umpatnya. Kedua tangannya meremas-remas rambut cepaknya bersamaan dengan kakinya yang dihentak-hentakkan di lantai.
“Aku sudah terlambat satu jam, dan ini semua karena hujan.”
“Kau sudah berapa jam di sini?” tanyanya padaku.
Aku mengangkat tanganku, menekuk ibu jari dan jari kelingkingku dan membiarkan ketiga jemariku yang lain tetap berdiri. Dia mengangguk paham.
“Lama juga ya, kamu gak bosan?”
Aku menggelengkan kepala.
Dia tersenyum sinis, “Kamu aneh.”
Aku tersenyum menanggapi pernyataannya perihal diriku memperlihatkan gigiku yang putih berjajar rapi.
Dia mengalihkan pandangannya ke depan, aku pun melakukan hal yang sama. Hujan sudah tak sederas tadi, kini hanya menyisakan gerimis lembut namun masih menimbulkan keributan di atas genting. Tapi aku suka, suara nyanyian titik hujan itu sangat merdu meski tak semerdu beberapa waktu yang lalu.
Tiba-tiba, gawainya berbunyi.
“Halo!” sapanya begitu ramah setelah mengangkat panggilan tersebut.
“….”
“Hmm, gak jadi ya?”
“….”
“Baiklah, tidak masalah.”
“….”
“Oke.” Dia memutuskan panggilan tersebut kemudian menyimpan gawainya di saku jaket miliknya.
“Hujan benar-benar pembawa masalah, aku kehilangan kesempatan emasku karenanya,” ucapnya menengadah.
Aku memutar pandanganku 90 derajat ke arahnya, raut wajahnya benar-benar penuh kebencian terhadap hujan.
“Arrghhhh..” Ia melampiaskan kekesalannya, rambutnya ia acak-acak kembali.
Aku diam memperhatikannya, kemudian memutar  pandanganku kembali 90 derajat. Hujan benar-benar sudah reda.
Dia belum beranjak. Barangkali menunggu angkutan umum berhenti di depan kami.
“Sial! Kenapa hujannya baru berenti?”
“Kalau begini, lebih baik pulang saja,” lanjutnya bersiap berdiri.
“Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Cakrawala, kamu?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku tak meresponnya, aku malah menengadah sibuk mencari sesuatu. Ah! Ketemu.
“Namamu siapa?” ulangnya.
Aku beralih menatapnya, tangannya masih terulur. Aku membalas uluran tangannya sembari menunjuk fenomena alam di langit.
Pandangannya mengikuti arah tanganku, di atas sana ia melihat sebuah garis lengkung dengan beraneka warna.
“Pelangi,” gumamnya.
Aku mengangguk kepala dengan cepat.
“Namamu Pelangi?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk lebih tegas.
“Nama yang indah,” pujinya.
Aku tersenyum.
“Kamu dari tadi kenapa gak ngomong?”
Aku diam.
“Ka-kamu?”
“Pelangi!” teriak seseorang.
Seketika aku dan Cakra berbalik ke sumber suara. Di seberang jalan tampak kulihat seseorang berjalan menyeberangi jalan ke arahku.
“Maaf ya, Kakak telat jemputnya,” ucapnya mengusap-usap puncak kepalaku.
Aku mengangguk tersenyum ke arahnya.
“Ini siapa, Pelangi?” tanya Kak Awan begitu melihat Cakrawala bersamaku di halte.
“Halo, Kak. Saya Cakrawala, saya baru kenal Pelangi barusan, Kak,” kata Cakrawala memperkenalkan diri.
“Saya Awan, kakak Pelangi.”
“Maaf, Kak. Pelangi ….”
“Iya, Dik. Gak usah terusin ya, terima kasih sudah menemani adikku menunggu hujan reda,” ucap Kak Awan.
“Iya, Kak. Sama-sama.” Cakrawala tersenyum ramah.
“Ayo, pulang!” ajaknya.
Aku mengiyakan ajakan Kak Awan.
“Mari, Dik!” ucap Kak Awan pada Cakra sambil menarik tanganku menyeberang jalan.
“Iya, Kak.”
Sesaat aku menatap Cakra, ia melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum menanggapi lambaian tangan Cakra sebelum akhirnya motor yang dikemudikan Kak Awan berlalu menebas jalanan.
Bagiku hujan itu tidak masalah seperti dugaan Cakrawala. Justru aku berterima kasih kepada hujan, sebab aku bisa memperkenalkan namaku pada seseorang setelah hujan reda karena setelah ia jatuh menyentuh bumi ia akan menampakkan sebuah garis lengkung beraneka warna. Orang biasanya menyebutnya pelangi.
Ya, Pelangi. Sebuah nama yang disematkan padaku oleh Ayah dan Ibu dengan harapan aku bisa mensyukuri perbedaan.
~*~

Uniprima, 16 Maret 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 1 Hujan



1 Ramadan 1441 H

Seharian ini, ratusan ton air membungkus bumi dari pagi hingga menjelma malam.
Membuat aktivitas jadi terhambat dan berantakan.
Hingga tak segan-segan beberapa yang merasa jadi korban merutuki hingga mencela rintik air jatuh menyentuh bumi.
Aku memaklumi mereka, namun bukan berarti aku bagian darinya.
Sebab bagiku, segala sesuatu yang terjadi di bumi ini tak akan terjadi begitu saja tanpa menitipkan sebuah pesan.
Terlihat buruk memang, bila kita memandangnya dari sudut yang buruk.
But, ayolah! Tak bisakah kita menilai lebih dari sudut pandang saja?
Boleh jadi, hujan seharian adalah peringatan bagi kita untuk berdiam di rumah.
Menikmati waktu bersama keluarga misalnya  yang mana kini menjadi pemandangan amat langkah.
Berdiam diri, atau melakukan aktivitas yang jarang sekali kau lakukan entah itu membaca, menonton, atau berkhayal.
Dunia luar terlalu kejam, bukan?
Mereka merenggut segala masa lapangmu demi kewajiban terpenuhi.
Sudah saatnya kita menikmati momen di kala hujan.
Jangan merutuki atau malah mencela.
Ingat!
Suatu saat, kau akan merindukan nyanyian rintiknya, sentuhan airnya kala ia memasrahkan diri jatuh menyentuh bumi.





_kaknun

Minggu, 05 April 2020

Resensi Buku "Definisi Patah Hati" karya Sri Wahyuni




Judul               : Definisi Patah Hati
Pengarang       : Sri Wahyuni
Penerbit           : Alra Media
Tahun terbit     : 2019
Tebal halaman : 99 halaman

Sinopsis Buku
Buku fiksi berupa cerpen ini berisikan sembilan cerita pendek perihal patah hati. Beberapa di antaranya terinspirasi dari kisah nyata yang kemudian dikemas menjadi cerita menarik bagi remaja.
Buku kumpulan cerpen “Definisi Patah Hati” karya Sri Wahyuni ini dimulai dengan kisah kekaguman seorang wanita bernama Nalfa kepada Candra—lelaki yang ia kenal berasal dari kampu sebelah. Pada akhirnya memilih untuk menjadi misterius sebab ia mengetahui bahwa Candra telah memiliki seorang kekasih yang ia lihat sendiri saat menghadiri workshop kepenulisan di kampus Candra.
Kemudian diakhiri dengan cerita pendek mengisahkan sosok Gibran ditinggal nikah oleh wanita yang dicintainya, lantas memutuskan untuk pindah dengan harapan bisa melupakan sosok Mei yang pada akhirnya membuat ia mengerti arti sebenarnya patah hati.

Kelebihan Buku
Buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan, sehingga mudah dipahami. Sangat cocok dibaca oleh kaum remaja, utamanya yang ingin mengenal cinta dan patah hati sebab buku inilah adalah pedoman untuk mengetahui yang sebenarnya dua kata dasar itu.
Ceritanya pun amat dekat dengan kita, sehingga saat membacanya mudah terbawa suasana.

Kekurangan Buku
Tersebab buku ini adalah buku perdana penulis, sehingga ada beberapa kekurangan di dalam. Di antaranya ada beberapa kata yang typo dan tidak mematuhi Ejaan Bahasa Indonesia.