Jumat, 24 April 2020

Cerpen - Pelangi by Sri Wahyuni





Hari ini, hujan mengguyur kotaku. Titik-titik airnya tanpa bosan jatuh menyentuh tanah, menimbulkan keributan di atas genting. Aku yang duduk di halte hanya bisa menghela napas dan menatap pasrah, sepertinya hari ini aku terlambat pulang lagi. Sesekali aku menggosokkan kedua tanganku, dingin yang ditimbulkan hujan benar-benar menusuk sampai tulang-belulangku.
Dari tempatku duduk, samar-samar kulihat beberapa kendaraan baik yang beroda dua ataupun empat hilir mudik di jalanan. Suaranya beradu dengan suara yang ditimbulkan hujan. Kulirik jam yang bertengger di pergelangan kiriku, jarum pendeknya menunjukkan perantara angka empat dan lima, sedangkan jarum panjangnya menunjukkan angka enam. Itu artinya sudah pukul 4.30, dan sudah dua setengah jam aku duduk di sini-menunggu hujan reda.
Tak banyak yang aku lakukan, selain duduk menunggu hujan reda serta menyaksikan kendaraan yang berlalu-lalang, aku juga mencoba menghitung titik-titik air. Ya, meski yag kuhitung adalah bunyi air yang jatuh menyentuh atap halte. Sesukaku.
Tak lama kemudian, tiba-tiba sebuah angkot berhenti di depanku dan menurunkan seseorang yang akhirnya berteduh bersamaku di halte. Ia memilih berdiri di ujung semeter dari tempatku duduk.
“Sial!” pekiknya, tangan kanannya mengacak-acak rambutnya.
Aku menoleh padanya, raut wajahnya menggambarkan kekesalan.
Tiba-tiba, pandangannya menoleh ke arahku. Deg! Aku tertangkap basah menatapnya, sedetik aku langsung memaksakan kedua ujung bibirku terangkat berusaha tersenyum. Dia membalas senyumku.
“Kamu tahu gak? Hujan itu masalah,” katanya mulai membuka percakapan di antara kami.
Aku tersenyum menanggapi pernyataannya.
“Coba kau lihat, rintiknya yang jatuh itu menimbulkan banyak masalah. Banyak pekerjaan yang tertunda karenanya, aktivitas jadi terhambat, dan lebih dari itu ….”
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah mobil truk melaju kencang di depan hingga menimbulkan cipratan air ke arah kami.
“Nah, ini juga. Habis sudah bajuku,” gerutunya membersihkan bajunya habis terkena cipratan air, aku juga melakukan hal yang sama meski tidak mengomel-ngomel seperti dirinya.
“Sekarang sudah pukul berapa?” tanyanya padaku.
Aku langsung memperlihatkan jam yang melingkar di pergelangan kiriku, menyuruh ia untuk melihatnya sendiri.
“Sial-sial-sial,” umpatnya. Kedua tangannya meremas-remas rambut cepaknya bersamaan dengan kakinya yang dihentak-hentakkan di lantai.
“Aku sudah terlambat satu jam, dan ini semua karena hujan.”
“Kau sudah berapa jam di sini?” tanyanya padaku.
Aku mengangkat tanganku, menekuk ibu jari dan jari kelingkingku dan membiarkan ketiga jemariku yang lain tetap berdiri. Dia mengangguk paham.
“Lama juga ya, kamu gak bosan?”
Aku menggelengkan kepala.
Dia tersenyum sinis, “Kamu aneh.”
Aku tersenyum menanggapi pernyataannya perihal diriku memperlihatkan gigiku yang putih berjajar rapi.
Dia mengalihkan pandangannya ke depan, aku pun melakukan hal yang sama. Hujan sudah tak sederas tadi, kini hanya menyisakan gerimis lembut namun masih menimbulkan keributan di atas genting. Tapi aku suka, suara nyanyian titik hujan itu sangat merdu meski tak semerdu beberapa waktu yang lalu.
Tiba-tiba, gawainya berbunyi.
“Halo!” sapanya begitu ramah setelah mengangkat panggilan tersebut.
“….”
“Hmm, gak jadi ya?”
“….”
“Baiklah, tidak masalah.”
“….”
“Oke.” Dia memutuskan panggilan tersebut kemudian menyimpan gawainya di saku jaket miliknya.
“Hujan benar-benar pembawa masalah, aku kehilangan kesempatan emasku karenanya,” ucapnya menengadah.
Aku memutar pandanganku 90 derajat ke arahnya, raut wajahnya benar-benar penuh kebencian terhadap hujan.
“Arrghhhh..” Ia melampiaskan kekesalannya, rambutnya ia acak-acak kembali.
Aku diam memperhatikannya, kemudian memutar  pandanganku kembali 90 derajat. Hujan benar-benar sudah reda.
Dia belum beranjak. Barangkali menunggu angkutan umum berhenti di depan kami.
“Sial! Kenapa hujannya baru berenti?”
“Kalau begini, lebih baik pulang saja,” lanjutnya bersiap berdiri.
“Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Cakrawala, kamu?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku tak meresponnya, aku malah menengadah sibuk mencari sesuatu. Ah! Ketemu.
“Namamu siapa?” ulangnya.
Aku beralih menatapnya, tangannya masih terulur. Aku membalas uluran tangannya sembari menunjuk fenomena alam di langit.
Pandangannya mengikuti arah tanganku, di atas sana ia melihat sebuah garis lengkung dengan beraneka warna.
“Pelangi,” gumamnya.
Aku mengangguk kepala dengan cepat.
“Namamu Pelangi?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk lebih tegas.
“Nama yang indah,” pujinya.
Aku tersenyum.
“Kamu dari tadi kenapa gak ngomong?”
Aku diam.
“Ka-kamu?”
“Pelangi!” teriak seseorang.
Seketika aku dan Cakra berbalik ke sumber suara. Di seberang jalan tampak kulihat seseorang berjalan menyeberangi jalan ke arahku.
“Maaf ya, Kakak telat jemputnya,” ucapnya mengusap-usap puncak kepalaku.
Aku mengangguk tersenyum ke arahnya.
“Ini siapa, Pelangi?” tanya Kak Awan begitu melihat Cakrawala bersamaku di halte.
“Halo, Kak. Saya Cakrawala, saya baru kenal Pelangi barusan, Kak,” kata Cakrawala memperkenalkan diri.
“Saya Awan, kakak Pelangi.”
“Maaf, Kak. Pelangi ….”
“Iya, Dik. Gak usah terusin ya, terima kasih sudah menemani adikku menunggu hujan reda,” ucap Kak Awan.
“Iya, Kak. Sama-sama.” Cakrawala tersenyum ramah.
“Ayo, pulang!” ajaknya.
Aku mengiyakan ajakan Kak Awan.
“Mari, Dik!” ucap Kak Awan pada Cakra sambil menarik tanganku menyeberang jalan.
“Iya, Kak.”
Sesaat aku menatap Cakra, ia melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum menanggapi lambaian tangan Cakra sebelum akhirnya motor yang dikemudikan Kak Awan berlalu menebas jalanan.
Bagiku hujan itu tidak masalah seperti dugaan Cakrawala. Justru aku berterima kasih kepada hujan, sebab aku bisa memperkenalkan namaku pada seseorang setelah hujan reda karena setelah ia jatuh menyentuh bumi ia akan menampakkan sebuah garis lengkung beraneka warna. Orang biasanya menyebutnya pelangi.
Ya, Pelangi. Sebuah nama yang disematkan padaku oleh Ayah dan Ibu dengan harapan aku bisa mensyukuri perbedaan.
~*~

Uniprima, 16 Maret 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar