Hari
ini, hujan mengguyur kotaku. Titik-titik airnya tanpa bosan jatuh menyentuh
tanah, menimbulkan keributan di atas genting. Aku yang duduk di halte hanya
bisa menghela napas dan menatap pasrah, sepertinya hari ini aku terlambat
pulang lagi. Sesekali aku menggosokkan kedua tanganku, dingin yang ditimbulkan
hujan benar-benar menusuk sampai tulang-belulangku.
Dari
tempatku duduk, samar-samar kulihat beberapa kendaraan baik yang beroda dua
ataupun empat hilir mudik di jalanan. Suaranya beradu dengan suara yang
ditimbulkan hujan. Kulirik jam yang bertengger di pergelangan kiriku, jarum
pendeknya menunjukkan perantara angka empat dan lima, sedangkan jarum
panjangnya menunjukkan angka enam. Itu artinya sudah pukul 4.30, dan sudah dua
setengah jam aku duduk di sini-menunggu hujan reda.
Tak
banyak yang aku lakukan, selain duduk menunggu hujan reda serta menyaksikan
kendaraan yang berlalu-lalang, aku juga mencoba menghitung titik-titik air. Ya,
meski yag kuhitung adalah bunyi air yang jatuh menyentuh atap halte. Sesukaku.
Tak
lama kemudian, tiba-tiba sebuah angkot berhenti di depanku dan menurunkan
seseorang yang akhirnya berteduh bersamaku di halte. Ia memilih berdiri di
ujung semeter dari tempatku duduk.
“Sial!”
pekiknya, tangan kanannya mengacak-acak rambutnya.
Aku
menoleh padanya, raut wajahnya menggambarkan kekesalan.
Tiba-tiba,
pandangannya menoleh ke arahku. Deg! Aku tertangkap basah menatapnya, sedetik
aku langsung memaksakan kedua ujung bibirku terangkat berusaha tersenyum. Dia
membalas senyumku.
“Kamu
tahu gak? Hujan itu masalah,” katanya mulai membuka percakapan di antara kami.
Aku
tersenyum menanggapi pernyataannya.
“Coba
kau lihat, rintiknya yang jatuh itu menimbulkan banyak masalah. Banyak
pekerjaan yang tertunda karenanya, aktivitas jadi terhambat, dan lebih dari itu
….”
Belum
sempat ia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah mobil truk melaju kencang di
depan hingga menimbulkan cipratan air ke arah kami.
“Nah,
ini juga. Habis sudah bajuku,” gerutunya membersihkan bajunya habis terkena
cipratan air, aku juga melakukan hal yang sama meski tidak mengomel-ngomel
seperti dirinya.
“Sekarang
sudah pukul berapa?” tanyanya padaku.
Aku
langsung memperlihatkan jam yang melingkar di pergelangan kiriku, menyuruh ia
untuk melihatnya sendiri.
“Sial-sial-sial,”
umpatnya. Kedua tangannya meremas-remas rambut cepaknya bersamaan dengan
kakinya yang dihentak-hentakkan di lantai.
“Aku
sudah terlambat satu jam, dan ini semua karena hujan.”
“Kau
sudah berapa jam di sini?” tanyanya padaku.
Aku
mengangkat tanganku, menekuk ibu jari dan jari kelingkingku dan membiarkan
ketiga jemariku yang lain tetap berdiri. Dia mengangguk paham.
“Lama
juga ya, kamu gak bosan?”
Aku
menggelengkan kepala.
Dia
tersenyum sinis, “Kamu aneh.”
Aku
tersenyum menanggapi pernyataannya perihal diriku memperlihatkan gigiku yang
putih berjajar rapi.
Dia
mengalihkan pandangannya ke depan, aku pun melakukan hal yang sama. Hujan sudah
tak sederas tadi, kini hanya menyisakan gerimis lembut namun masih menimbulkan
keributan di atas genting. Tapi aku suka, suara nyanyian titik hujan itu sangat
merdu meski tak semerdu beberapa waktu yang lalu.
Tiba-tiba,
gawainya berbunyi.
“Halo!”
sapanya begitu ramah setelah mengangkat panggilan tersebut.
“….”
“Hmm,
gak jadi ya?”
“….”
“Baiklah,
tidak masalah.”
“….”
“Oke.”
Dia memutuskan panggilan tersebut kemudian menyimpan gawainya di saku jaket
miliknya.
“Hujan
benar-benar pembawa masalah, aku kehilangan kesempatan emasku karenanya,”
ucapnya menengadah.
Aku
memutar pandanganku 90 derajat ke arahnya, raut wajahnya benar-benar penuh
kebencian terhadap hujan.
“Arrghhhh..”
Ia melampiaskan kekesalannya, rambutnya ia acak-acak kembali.
Aku
diam memperhatikannya, kemudian memutar
pandanganku kembali 90 derajat. Hujan benar-benar sudah reda.
Dia
belum beranjak. Barangkali menunggu angkutan umum berhenti di depan kami.
“Sial!
Kenapa hujannya baru berenti?”
“Kalau
begini, lebih baik pulang saja,” lanjutnya bersiap berdiri.
“Oh
iya, kita belum kenalan. Namaku Cakrawala, kamu?” tanyanya sembari mengulurkan
tangannya ke arahku.
Aku
tak meresponnya, aku malah menengadah sibuk mencari sesuatu. Ah! Ketemu.
“Namamu
siapa?” ulangnya.
Aku
beralih menatapnya, tangannya masih terulur. Aku membalas uluran tangannya
sembari menunjuk fenomena alam di langit.
Pandangannya
mengikuti arah tanganku, di atas sana ia melihat sebuah garis lengkung dengan
beraneka warna.
“Pelangi,”
gumamnya.
Aku
mengangguk kepala dengan cepat.
“Namamu
Pelangi?” tanyanya memastikan.
Aku
mengangguk lebih tegas.
“Nama
yang indah,” pujinya.
Aku
tersenyum.
“Kamu
dari tadi kenapa gak ngomong?”
Aku
diam.
“Ka-kamu?”
“Pelangi!”
teriak seseorang.
Seketika
aku dan Cakra berbalik ke sumber suara. Di seberang jalan tampak kulihat seseorang
berjalan menyeberangi jalan ke arahku.
“Maaf
ya, Kakak telat jemputnya,” ucapnya mengusap-usap puncak kepalaku.
Aku
mengangguk tersenyum ke arahnya.
“Ini
siapa, Pelangi?” tanya Kak Awan begitu melihat Cakrawala bersamaku di halte.
“Halo,
Kak. Saya Cakrawala, saya baru kenal Pelangi barusan, Kak,” kata Cakrawala
memperkenalkan diri.
“Saya
Awan, kakak Pelangi.”
“Maaf,
Kak. Pelangi ….”
“Iya,
Dik. Gak usah terusin ya, terima kasih sudah menemani adikku menunggu hujan
reda,” ucap Kak Awan.
“Iya,
Kak. Sama-sama.” Cakrawala tersenyum ramah.
“Ayo,
pulang!” ajaknya.
Aku
mengiyakan ajakan Kak Awan.
“Mari,
Dik!” ucap Kak Awan pada Cakra sambil menarik tanganku menyeberang jalan.
“Iya,
Kak.”
Sesaat
aku menatap Cakra, ia melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum menanggapi
lambaian tangan Cakra sebelum akhirnya motor yang dikemudikan Kak Awan berlalu
menebas jalanan.
Bagiku
hujan itu tidak masalah seperti dugaan Cakrawala. Justru aku berterima kasih
kepada hujan, sebab aku bisa memperkenalkan namaku pada seseorang setelah hujan
reda karena setelah ia jatuh menyentuh bumi ia akan menampakkan sebuah garis
lengkung beraneka warna. Orang biasanya menyebutnya pelangi.
Ya,
Pelangi. Sebuah nama
yang disematkan padaku oleh Ayah dan Ibu dengan harapan aku bisa mensyukuri perbedaan.
~*~
Uniprima, 16 Maret 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar