Kasih Tak Sampai
Di taman, Ara duduk sendiri melihat orang yang lalu lalang. Tiba-tiba dari belakang, Wahyu datang dan menutupi mata Ara dengan tangannya.“Ayo tebak, siapa aku ?”kata Wahyu
“Hmm, Wahyu kan ?”jawab Ara. Wahyu pun melepas tangannya.
“Tahu aja kamu”kata Wahyu yang langsung duduk di samping Ara.
“Iya dong, siapa juga sih yang gak tahu ma kamu yang jail ini”jawab Ara sambil mencubit lengan Wahyu dengan gemes.
“Aauu, sakit tahu”kata Wahyu menahan cubitan Ara.
“Hehehe, sorry deh”kata Ara minta maaf.
Sesaat mereka pun berdiaman, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. dan akhirnya Wahyu pun memulai topik pembicaraan.
“Ra, nanti malam kamu ada acara gak ?”tanya Wahyu
“Hmmm, gak tuh. Mang napa ?” tanya Ara balik
“Nanti malam, aku mau ngajak kamu pergi ke Pantai. Itu sih kalau kamu mau”jawab Wahyu
“Ooo, mau ke Pantai. Kayaknya asik tuh. Oke deh, aku mau”kata Ara mantap
“Nanti aku jemput pukul 19.30 WITA ya”tanya Wahyu
“Iyya deh”jawab Ara
Tepat pukul 19.30 WITA, Wahyu dan Ara pun berangkat ke Pantai. Setengah jam telah berlalu. Akhirnya mereka sampai di Pantai.
“Wah, tempatnya rame banget ya malam ini”kata Ara kagum
“Ya iyalah rame. Malam ini kan malam minggu. Wajarlah tempat ini rame dengan pasangan muda-mudi”kata Wahyu
“Oh iya, baru keinget kalau malam ini, malam minggu. Hehehe”kata Ara tertawa kecil
“Mending kita ke tepi pantai aja yuk ?”ajak Wahyu
“yuk”kata Ara
Mereka duduk di tepi Pantai, melihat lautan luas. Di tambah bulan bersinar sempurna di temani oleh sahabatnya bintang yang bertaburan di langit dengan cahayanya yang berkelap-kelip. Jadi malam ini menjadi malam yang terindah bagi pasangan muda-mudi yang lagi malmingan.
“Yu, disini indah banget ya ?”tanya Ara yang sangat menikmati indahnya Pantai itu. Ya maklum lah Ara kan gak pernah pergi ke Pantai, biasanya yang ia kunjungi puncak gitu.
“Iyalah Ra, kalau aku lagi sedih. Pasti aku selalu pergi ke Pantai ini menenangkan pikiranku.”jawab Wahyu
“Ow”kata Ara
Sesaat mereka terdiam. Tiba-tiba Wahyu membuka suara.
“Ra, ada sesuatu yang aku omongin sama kamu”kata Wahyu
“Ya, ngomong aja. Mang kamu mau ngomong apa ?” tanya Ara
“oya Ra, kitaa kan udah temenan kurang lebih 7 tahun nih. Apa kamu ada rasa ma aku, Ra ?” tanya Wahyu menggenggam tangan Ara
“maksud kamu yu ?” kata Ara gak ngerti
“Ra, sebenernya aku udah lama suka kamu, kamu mau gak jadi penghuni hati aku yang sepi ini ?” tanya Wahyu
“maaf yu,” kata Ara melepas genggaman Wahyu
“bukannya aku nolak cinta kamu, tapi..”kata-kata Ara terputus
“tapi apa Ra ?” tanya Wahyu
“aku udah di jodohin ma Rahmat, aku gak mungkin nolak perjodohan itu, karena aku gak berdaya di hadapan kedua orang tua aku”jawab Ara menahan air matanya yang mulai jatuh. Dia pun lari meninggalkan Wahyu yang diam terpaku di sana.
Udah 2 minggu ini, wahyu tidak bertemu dengan Ara. Bahkan di kampus pun wahyu jarang melihat Ara. Siang ini wahyu menunggu ara di taman, yang biasanya jadi tempat mereka duduk. Tapi udah setengah jam, wahyu menunggu namun ara tak kunjung datang. “apa Ara menjauh dari aku ya? Atau lagi sibuk nyiapin pesta pernikahannya dengan rahmat?”kta wahyu dalam hati.
Di sisi lain, Ara masih terbaring lemah di kamar rumah sakit. Sebenarnya Ara mengindap penyakit yang mengganaskan, ia terpaksa bohongin wahyu, kalo dia dijodohi, karena ia tak mau wahyu akan merasa sedih dan bersalah karena tidak bisa menjaga sahabat yang amat ia sayangi.
“maa,,” panggil ara pada mamanya yang ada di sampingnya
“ya ara, kamu baru sadar sayang, mama panggil dokter ya?”kta mamanya
ara hanya menjawab dengan anggukan kecil. Akhirnya mama ara pun keluar dari kamar untuk mengabarkan dokter bahwa ara telah sadar. Beberapa saat kemudian, dokter pun datang.
“hai ara,”sapa dokter
“hai juga dok,”balas ara
“bagaimana kabar kamu skrang, dokter periksa ya”kata dokter
“iya dok”balas ara lagi
Dokter pun memeriksa Ara, setelah memeriksa ara.
“bagaimana dok putri saya”tanya mamanya ara
“keadaannya udah membaik, besok ia bisa pulang. Namun ia jangan lupa teratur minum obat, biar cepat sembuh”kata dokter
“baik dok”kata mama ara
Esoknya, ara pun akhirnya pulang. Sesampai di rumah.
“akhirnya, aku sampai di rumah ini. Setelah beberapa minggu aku tinggalkn”kta ara
ara pun langsung menuju ke kamarnya yang ada di pojok kanan ruang tamu. Ara pun merebahkan tubuhnya, capek akan penyakit yang ia derita. Teringat semuanya saat bersama wahyu sahabatnya itu.
“gimana ya, kabarnya wahyu? Dh lama gak ketemu”kata ara
ara pun berkeinginan untuk nemuin wahyu di rumahnya.
“ma, ara pengen ke rumah wahyu ya ma?”pinta ara pada mamanya
“tapi kan ra, kamu baru sembuh”kata mamanya khawatir
“please ma..”pint ara
“ya udah deh, tpi kamu jaga kondisi kamu ya”kata mama ara
“sip mam”kata ara gembira sambil mencium pipi mamanya.
“ara pergi dulu ya ma”pamit ara
“ia sayang”kata mamanya dengan cemas
Sesampainya di rumah wahyu, ara pun memberi salam sambil mengetuk pintu. Namun tak ada seorang pun yang menanggapinya. Akhirnya ara pun pulang dengan kecewa.
Disisi lain, wahyu baru selesai jalan-jalan dengan pacar nya Inaya. Saat pulang, ia melihat ara jalan kaki di sisi kiri jalan raya dengan muka murung. Namun, ia berfikir mungkin salah liat aja. Karena akhir-akhir ini, ia selalu mimpi buruk tentang ara. Di dalam mimpinya, ara meninggalkannya untuk selamanya.
Ara bru smpai di rumahnya, pas dhuhur. Ia pun langsung merebhkan badannya di ranjang.
“mungkin wahyu, lagi belajar kelompok di rumah temannya”pikir ara n akhirnya tertidur.
Sore ini , ara gak seperti biasanya. Mukanya pucat banget, kayak mayat hidup aja. Namun, semua itu tak mengurutkan niatnya untuk pergi ke rumah wahyu lagi untuk kedua kalinya. Sesampai di rumah wahyu, ia pun mengetuk pintu. Namun, tak jadi. Krna mendengar suara di taman belakang rumah wahyu. Ia pun pergi ke kebelakang, alangkah sedihnya ara. Saat melihat, wahyu kini telah melupaknnya, ia melihat wahyu bersenda gurau dengan cewek lain yang kemungkinan adalah pacarnya. Memang ara tak berhak untuk itu. namun, apakah harus seorang sahabat di campakkan begitu saja. Ia pun hanya tersenyum tipis, melihat kebahagiaan mereka. Sambil berjalan mundur n lari di sertai dengan gerimis yang akhirnya menjadi hujan deras.
Wahyu yang mengetahui keberadaan ara tadi, lalu meyusulnya di tengah derasnya hujan. Ia meningglkan Inaya begitu saja yang diam terpaku.
“Ra”panggil Wahyu
ara pun menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya. Lalu tersenyum pada wahyu. Senyum yang memberi ketenangan.
“ra, kamu tdi kenapa pergi?”tanya wahyu
“hmm, aku Cuma gak mau ganggu kamu kok”kata ara diiringi dengan senyumnya
“oya, kapan nih acaranya?”tanya wahyu
“hmmm, besok udah harinya, dtang ya”kata ara sambil berlari. Meninggalkan wahyu disana.
“ternyata, kamu bakal ninggalin aku ra. Aku pasti datang besok, walau harus terluka melihat kamu duduk berdua di pelaminan bersama rahmat. Jujur ra, di hati ini masih ada kamuu. Walau kini, aku tlah milik inaya”kata wahyu dlaam hati.
Gak ada yang bakal tahu kapan maut memanggil kita, ditengah derasnya hujan. Penyakit ara kambuh lagi, ia tersungkur di tanah, untungnya Alif temn ara kebetulan lewat disana. Ia melihat ara tergeletak disana. Ia pun membawanya ke RS dan menghubungi kedua ortu Ara.
***
Pagi ini, wahyu sudah bersiap-siap tuk pergi ke pesta pernikahan ara. Ia tak mengetahui bahwa kini ara udah gak ada. Sesampai di rumah ara, ada yang berbeda. Gak ada tenda biru yang berdiri, gak ada suara ria yang terdengar namun suara tangis pilu yang terdengar. Semua orang yang lalu lalang pun pake baju serba itam. Di sana pun juga ada keranda. Wahyu pun bertanya-tanya dalam hati. “siapa yang meninggal ?”
Dengan sedikit keberanian yang ia punya, ia pun memasuki rumah ara. Bagaikan petir di siang bolong, mentari seakan tak menampakkan sinarnya, terasa dunia telah kiamat, yang wahyu rasakan. saat melihat yang terbaring kaku disana adalah ara. Hati wahyu miris, melihat kenyataan ini.
“tante, ia bkan ara kan?”tanya wahyu terbata-bata
“tabahkan hatimu nak, sahabat engkau tlah meninggalkan kita semua.”jawab mamanya ara
“tapikan tante, ini hri pernikahan Ara”kata wahyu
“Ara Cuma ngarang cerita aj, biar kamu gak tambah sakiit saat nerima kamu. Ia sngat sayag kamu, hingga ia merahasiakan semuanya. Ia takut nanti kamu bakal merasa bersalah, gak bisa jaga dia.”kata wahyu
Hari pernikahan Ara yang ia kira, ternyata adalah hari kepergian bunga mawarnya yang kini tlah layu di taman hatinya. Ia pun mengiringi ara ke pemakamannya.
Wahyu masih memandang makam ara. Di atas gundukan tanah yang bertuliskan nama Nalaratista Mestariqla. Ia menangis dan menyesali perbuatannya. Ditengah tangisnya, mama ara memberikannya sepucuk surat. Yang bertuliskan :
For : wahyu pratama
detik demi detik kian berlalu, gak kerasa ya persahabatan kita udah hampir 8 tahun. Apa kabar yu ? kamu baik-baik aja kan. Oya yu, jika akhirnya aku gak ada, kamu jangan sedih ya. Apa lagi sampai nangis, malu tahu. Masa ada cowok cengen sih. Oya yu, maafin aku ya. Waktu itu gak bisa nerima kamu, karena aku takut kamu bakal tambah sakitt jika aku nerima kamu. Yu, sebenernya akuu tak pernah di jodohin ma Rahmat, aku Cuma ngarang cerita aj. Biar kamu sakit, daripada nanti kamu bakal lebih sakit lagi, kalo kamu tahu bahwa kini aku gak ada lagi. Maaf y Yu, doain aku ya. Makasih atas semuanya, yang pernah kamu berikan ma aku. Aku sayang kamu. Ara
“ra, walaupun kini ragamu telah tiada, namun nmamu tertanam di dalam hatiku. Dan bila waktunya tiba tuhan mengijinkan aku tuk menyusulmu, aku akan kembali padamu. Bukan sebgaai sahabta tapi sebagai pendampingmu di sana. Tunggu aku Ra, di sana” kata wahyu
Hari itu yang mendung kini berganti cerah mengiringi langkah wahyu tuk kembali ke rumhnya. Di alam sana, Ara pun membalas perkataan wahyu.
“bila, waktu itu tiba aku akan menjadi milikmu, aku akan menunggumu di sini Yu, smpai Tuhan mengijinkan kita bersatu di tmpat ini kelak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar