Kamis, 30 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 7 Pilihan






7 Ramadan 1441 H

Hidup ini adalah sebuah pilihan.
Apapun pilihanmu, semoga kau teguh menghadapinya dan bertanggung jawab atasnya.
Sebab, tak ada pilihan yang mudah, dan tak ada pilihan yang lancar-lancar saja.
Akan selalu ada badai yang siap menghadap, akan selalu ada resiko yang siap membuatmu menjadi putus asa.

Terus saja berjuang!


Jangan patah semangat!




_kaknun

Rabu, 29 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 6 Melawan Ego


6 Ramadan 1441 H

Kita gak bakal tahu sejauh mana kemampuan kita kalau tidak mencoba menguji kemampuan kita sendiri dengan mengikuti sebuah kompetisi.
Makanya untuk pertama kalinya aku ngikutin sebuah kompetisi terbesar untuk sebuah kepenulisan.
Aku gak berharap untuk jadi pemenang di antara banyak orang.
Cukup jadi pemenang melawan ego sendiri yang bermalas-malasan beresin naskah.
Sebab pesaing kita sebenarnya bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.
Jadi, semoga kita bisa melawan ego masing-masing yang bisa membuat kita jauh dari kata sukses.
Semoga, tetap semangat menjalani hidup dan selalu mengasa kemampuan.


Semangat!




_kaknun

Selasa, 28 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 5 Mengabadikan Nama


5 Ramadan 1441 H

Aku tahu, jatah hidup kita di dunia ini cuma sebentar. Makanya aku menulis, selain karena aku menyenangi kegiatan ini juga dapat mengabadikan namaku seperti  Chairil Anwar yang namanya hidup seribu tahun meski raganya telah ditelan bumi puluhan tahun.

Biarkan saja penaku menjelaskan, kala mulut telah dibungkam.
Biarkan saja penaku menerkam, mencabik-cabik hati yang tak berperasaan.

Suatu saat mereka paham, ucapan selalu kalah dengan kata yang berakhir di keabadian.





_kaknun

Senin, 27 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 4 Buku dengan Akhirnya

 
4  Ramadan 1441 H
 
Bagiku, setiap orang punya buku dan menjadi peran utamanya. Sebagai peran utama, kadang bersinggungan dengan hidup orang lain yang menjadi figuran dalam buku kita. Pun sama dengan kita yang menjadi figuran orang lain di dalam bukunya.
Dan setiap buku akan selalu memiliki akhir. Ini yang perlu kita garis bawahi, sebab bagi beberapa orang, akhir itu ada dua macam yakni bahagia atau sedih. Aku tak menyalahkannya, karena disetiap cerita fiksi yang bertebaran di kehidupan kita memang begitulah akhirnya, malah ada yang tidak memiliki akhir sama sekali atau dengan kata lain gantung membuat kita bertanya-tanya seperti apa akhir si tokoh utama.
Berbeda dengan kehidupan kita sesungguhnya.
Bagiku, akhir dari setiap buku kita haruslah menjadi indah.
Kenapa?
Sebagai peran utama, seharusnya kita menciptakan sendiri akhir bahagia kita. Bila nyatanya kita berakhir menyedihkan, percayalah itu bukanlah akhir sesungguhnya. Tuhan sedang menguji, sampai mana batas kemampuan kita dan sebagai peran utama harusnya kita tak perlu terpuruk terlalu lama.
Bangkit!
Maju terus, lewati keterpurukan itu.
Karena depan sana, ada bahagia menunggu dengan segala kejutan Tuhan yang diciptakan untuk kita.
Jadi, jangan merasa hidup ini sia-sia, ya?!
Kita  adalah tokoh utama dalam cerita hidup kita dan akan berakhir indah dengan cara yang indah pula.
 
 
 
 
 
-kaknun

Minggu, 26 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 3 Hati yang Berharap



3 Ramadan 1441 H

Perihal hati  yang berharap, ada kalanya akan lenyap.
Entah karena lelah atau karena resah.
Aku bukannya menghakimi, tapi lebih kepada  menasihati. Bahwa sesungguhnya, tiap orang akan punya batas menyerah.
Memilih pergi bukan karena dia kalah, melainkan atas kesadaran diri.
Menyelamatkan hati dari patahan itu lebih baik dibanding bersusah payah cari penawar  atas hati yang terluka.

Kepada hati yang berharap,
Aku tidak menggurui!
Aku hanya ingin menyampaikan, bila  dari awal engkau sudah ragu atas segala  keputusan yang kau ambil, alangkah baiknya kau harus berhenti dari sekarang.
Sebab, menjalani sesuatu dengan keragu-raguan tak akan pernah membuatmu berhasil sampai di tempat tujuan.

Dan, buatmu yang sudah mantap sejak dulu,
Semoga harapmu tak membuatmu sekarat atas segala keputusan yang berbalik menikam.
Terkadang, Tuhan sering menegur lewat hal-hal yang membuat kita tergiur.




_kaknun

Sabtu, 25 April 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 2 Penantian Seorang Perempuan



2 Ramadan 1441 H

Bagiku hal yang paling melelahkan bagi seorang perempuan ialah menunggu. Lebih-lebih menunggu tanpa sebuah kepastian.
Ia akan merasa bimbang jika ada sosok pemuda datang menemui walinya dan meminta dirinya yang mana sosok itu bukanlah sosok yang ia tunggu.
Mau menerima, tapi bukan dia yang kita pinta.
Mau menolak, takutnya yang ditunggu malah bertolak.
Ah! Amat sulit bukan?
Menjadi seorang perempuan memang  tak pernah salah, menempatkan sebuah nama di hati kita pun juga tak pernah salah. Sebagaimana yang kita tahu, kita tak pernah tahu dengan siapa dan karena siapa kita menjatuhkan hati pada seseorang.
Perasaan gak pernah salah.
Bila begitu, lantas apa yang salah?
Sejujurnya aku juga tak bisa menjawab pertanyaan itu, namun aku berpikiran bahwa yang salah adalah presepsi kita akan sesuatu.
Menunggu sosok tanpa kepastian memang tak pernah salah, but saat sosok itu nyatanya tak pernah datang, janganlah kau menyesali apa yang pernah kau jalani.
Ubah sudut pandang kita, boleh jadi kau akan menemukan sosok yang benar-benar memikat hatimu atau mungkin saja dia yang kau sebut dalam doa.
So, jangan pernah menyalahkan apapun.
Perihal menunggu misalnya.
Dan buat yang menunggu, selamat menanti! Apa yang kau tanam, kelak akan kau tunai. :)

Jumat, 24 April 2020

Cerpen - Pelangi by Sri Wahyuni





Hari ini, hujan mengguyur kotaku. Titik-titik airnya tanpa bosan jatuh menyentuh tanah, menimbulkan keributan di atas genting. Aku yang duduk di halte hanya bisa menghela napas dan menatap pasrah, sepertinya hari ini aku terlambat pulang lagi. Sesekali aku menggosokkan kedua tanganku, dingin yang ditimbulkan hujan benar-benar menusuk sampai tulang-belulangku.
Dari tempatku duduk, samar-samar kulihat beberapa kendaraan baik yang beroda dua ataupun empat hilir mudik di jalanan. Suaranya beradu dengan suara yang ditimbulkan hujan. Kulirik jam yang bertengger di pergelangan kiriku, jarum pendeknya menunjukkan perantara angka empat dan lima, sedangkan jarum panjangnya menunjukkan angka enam. Itu artinya sudah pukul 4.30, dan sudah dua setengah jam aku duduk di sini-menunggu hujan reda.
Tak banyak yang aku lakukan, selain duduk menunggu hujan reda serta menyaksikan kendaraan yang berlalu-lalang, aku juga mencoba menghitung titik-titik air. Ya, meski yag kuhitung adalah bunyi air yang jatuh menyentuh atap halte. Sesukaku.
Tak lama kemudian, tiba-tiba sebuah angkot berhenti di depanku dan menurunkan seseorang yang akhirnya berteduh bersamaku di halte. Ia memilih berdiri di ujung semeter dari tempatku duduk.
“Sial!” pekiknya, tangan kanannya mengacak-acak rambutnya.
Aku menoleh padanya, raut wajahnya menggambarkan kekesalan.
Tiba-tiba, pandangannya menoleh ke arahku. Deg! Aku tertangkap basah menatapnya, sedetik aku langsung memaksakan kedua ujung bibirku terangkat berusaha tersenyum. Dia membalas senyumku.
“Kamu tahu gak? Hujan itu masalah,” katanya mulai membuka percakapan di antara kami.
Aku tersenyum menanggapi pernyataannya.
“Coba kau lihat, rintiknya yang jatuh itu menimbulkan banyak masalah. Banyak pekerjaan yang tertunda karenanya, aktivitas jadi terhambat, dan lebih dari itu ….”
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah mobil truk melaju kencang di depan hingga menimbulkan cipratan air ke arah kami.
“Nah, ini juga. Habis sudah bajuku,” gerutunya membersihkan bajunya habis terkena cipratan air, aku juga melakukan hal yang sama meski tidak mengomel-ngomel seperti dirinya.
“Sekarang sudah pukul berapa?” tanyanya padaku.
Aku langsung memperlihatkan jam yang melingkar di pergelangan kiriku, menyuruh ia untuk melihatnya sendiri.
“Sial-sial-sial,” umpatnya. Kedua tangannya meremas-remas rambut cepaknya bersamaan dengan kakinya yang dihentak-hentakkan di lantai.
“Aku sudah terlambat satu jam, dan ini semua karena hujan.”
“Kau sudah berapa jam di sini?” tanyanya padaku.
Aku mengangkat tanganku, menekuk ibu jari dan jari kelingkingku dan membiarkan ketiga jemariku yang lain tetap berdiri. Dia mengangguk paham.
“Lama juga ya, kamu gak bosan?”
Aku menggelengkan kepala.
Dia tersenyum sinis, “Kamu aneh.”
Aku tersenyum menanggapi pernyataannya perihal diriku memperlihatkan gigiku yang putih berjajar rapi.
Dia mengalihkan pandangannya ke depan, aku pun melakukan hal yang sama. Hujan sudah tak sederas tadi, kini hanya menyisakan gerimis lembut namun masih menimbulkan keributan di atas genting. Tapi aku suka, suara nyanyian titik hujan itu sangat merdu meski tak semerdu beberapa waktu yang lalu.
Tiba-tiba, gawainya berbunyi.
“Halo!” sapanya begitu ramah setelah mengangkat panggilan tersebut.
“….”
“Hmm, gak jadi ya?”
“….”
“Baiklah, tidak masalah.”
“….”
“Oke.” Dia memutuskan panggilan tersebut kemudian menyimpan gawainya di saku jaket miliknya.
“Hujan benar-benar pembawa masalah, aku kehilangan kesempatan emasku karenanya,” ucapnya menengadah.
Aku memutar pandanganku 90 derajat ke arahnya, raut wajahnya benar-benar penuh kebencian terhadap hujan.
“Arrghhhh..” Ia melampiaskan kekesalannya, rambutnya ia acak-acak kembali.
Aku diam memperhatikannya, kemudian memutar  pandanganku kembali 90 derajat. Hujan benar-benar sudah reda.
Dia belum beranjak. Barangkali menunggu angkutan umum berhenti di depan kami.
“Sial! Kenapa hujannya baru berenti?”
“Kalau begini, lebih baik pulang saja,” lanjutnya bersiap berdiri.
“Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Cakrawala, kamu?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku tak meresponnya, aku malah menengadah sibuk mencari sesuatu. Ah! Ketemu.
“Namamu siapa?” ulangnya.
Aku beralih menatapnya, tangannya masih terulur. Aku membalas uluran tangannya sembari menunjuk fenomena alam di langit.
Pandangannya mengikuti arah tanganku, di atas sana ia melihat sebuah garis lengkung dengan beraneka warna.
“Pelangi,” gumamnya.
Aku mengangguk kepala dengan cepat.
“Namamu Pelangi?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk lebih tegas.
“Nama yang indah,” pujinya.
Aku tersenyum.
“Kamu dari tadi kenapa gak ngomong?”
Aku diam.
“Ka-kamu?”
“Pelangi!” teriak seseorang.
Seketika aku dan Cakra berbalik ke sumber suara. Di seberang jalan tampak kulihat seseorang berjalan menyeberangi jalan ke arahku.
“Maaf ya, Kakak telat jemputnya,” ucapnya mengusap-usap puncak kepalaku.
Aku mengangguk tersenyum ke arahnya.
“Ini siapa, Pelangi?” tanya Kak Awan begitu melihat Cakrawala bersamaku di halte.
“Halo, Kak. Saya Cakrawala, saya baru kenal Pelangi barusan, Kak,” kata Cakrawala memperkenalkan diri.
“Saya Awan, kakak Pelangi.”
“Maaf, Kak. Pelangi ….”
“Iya, Dik. Gak usah terusin ya, terima kasih sudah menemani adikku menunggu hujan reda,” ucap Kak Awan.
“Iya, Kak. Sama-sama.” Cakrawala tersenyum ramah.
“Ayo, pulang!” ajaknya.
Aku mengiyakan ajakan Kak Awan.
“Mari, Dik!” ucap Kak Awan pada Cakra sambil menarik tanganku menyeberang jalan.
“Iya, Kak.”
Sesaat aku menatap Cakra, ia melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum menanggapi lambaian tangan Cakra sebelum akhirnya motor yang dikemudikan Kak Awan berlalu menebas jalanan.
Bagiku hujan itu tidak masalah seperti dugaan Cakrawala. Justru aku berterima kasih kepada hujan, sebab aku bisa memperkenalkan namaku pada seseorang setelah hujan reda karena setelah ia jatuh menyentuh bumi ia akan menampakkan sebuah garis lengkung beraneka warna. Orang biasanya menyebutnya pelangi.
Ya, Pelangi. Sebuah nama yang disematkan padaku oleh Ayah dan Ibu dengan harapan aku bisa mensyukuri perbedaan.
~*~

Uniprima, 16 Maret 2020

30 Hari Bercerita #SpesialRamadan - Episode 1 Hujan



1 Ramadan 1441 H

Seharian ini, ratusan ton air membungkus bumi dari pagi hingga menjelma malam.
Membuat aktivitas jadi terhambat dan berantakan.
Hingga tak segan-segan beberapa yang merasa jadi korban merutuki hingga mencela rintik air jatuh menyentuh bumi.
Aku memaklumi mereka, namun bukan berarti aku bagian darinya.
Sebab bagiku, segala sesuatu yang terjadi di bumi ini tak akan terjadi begitu saja tanpa menitipkan sebuah pesan.
Terlihat buruk memang, bila kita memandangnya dari sudut yang buruk.
But, ayolah! Tak bisakah kita menilai lebih dari sudut pandang saja?
Boleh jadi, hujan seharian adalah peringatan bagi kita untuk berdiam di rumah.
Menikmati waktu bersama keluarga misalnya  yang mana kini menjadi pemandangan amat langkah.
Berdiam diri, atau melakukan aktivitas yang jarang sekali kau lakukan entah itu membaca, menonton, atau berkhayal.
Dunia luar terlalu kejam, bukan?
Mereka merenggut segala masa lapangmu demi kewajiban terpenuhi.
Sudah saatnya kita menikmati momen di kala hujan.
Jangan merutuki atau malah mencela.
Ingat!
Suatu saat, kau akan merindukan nyanyian rintiknya, sentuhan airnya kala ia memasrahkan diri jatuh menyentuh bumi.





_kaknun

Minggu, 05 April 2020

Resensi Buku "Definisi Patah Hati" karya Sri Wahyuni




Judul               : Definisi Patah Hati
Pengarang       : Sri Wahyuni
Penerbit           : Alra Media
Tahun terbit     : 2019
Tebal halaman : 99 halaman

Sinopsis Buku
Buku fiksi berupa cerpen ini berisikan sembilan cerita pendek perihal patah hati. Beberapa di antaranya terinspirasi dari kisah nyata yang kemudian dikemas menjadi cerita menarik bagi remaja.
Buku kumpulan cerpen “Definisi Patah Hati” karya Sri Wahyuni ini dimulai dengan kisah kekaguman seorang wanita bernama Nalfa kepada Candra—lelaki yang ia kenal berasal dari kampu sebelah. Pada akhirnya memilih untuk menjadi misterius sebab ia mengetahui bahwa Candra telah memiliki seorang kekasih yang ia lihat sendiri saat menghadiri workshop kepenulisan di kampus Candra.
Kemudian diakhiri dengan cerita pendek mengisahkan sosok Gibran ditinggal nikah oleh wanita yang dicintainya, lantas memutuskan untuk pindah dengan harapan bisa melupakan sosok Mei yang pada akhirnya membuat ia mengerti arti sebenarnya patah hati.

Kelebihan Buku
Buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan, sehingga mudah dipahami. Sangat cocok dibaca oleh kaum remaja, utamanya yang ingin mengenal cinta dan patah hati sebab buku inilah adalah pedoman untuk mengetahui yang sebenarnya dua kata dasar itu.
Ceritanya pun amat dekat dengan kita, sehingga saat membacanya mudah terbawa suasana.

Kekurangan Buku
Tersebab buku ini adalah buku perdana penulis, sehingga ada beberapa kekurangan di dalam. Di antaranya ada beberapa kata yang typo dan tidak mematuhi Ejaan Bahasa Indonesia.