Mimpi yang Tertunda
Karya : Sri Wahyuni
Kelas : IX.Utama
Terkadang dalam menuntut ilmu itu, banyak sekali rintangan yang mesti kita lalui. Entalah, rintangan itu mudah atau sulit, rintangan itu kadang datang dari keluarga ataupun di sekolah. Terkadang rintangan itu sangat sulit untuk kita lalui, sehingga kita berputus asa dan akhirnya mimpi yang ingin kita meraihnya tertunda. Semua itu tergantung pada diri kita masing-masing, bagaimana cara tuk bisa menghadapi semua yang terjadi pada diri kita.
***
Pagi ini, matahari bersinar cerah, burung-burung berkicau dengan merdu mengawali hari Naura. Ya, hari ini adalah hari pertama sekolah setelah liburan. Naura berangkat ke sekolah dengan riang gembira. Naura adalah salah satu siswi kelas I SMP Negeri 2 Majauleng. Dia berangkat dengan jalan kaki sendirian. Tak lama kemudian, sampailah dia di kelasnya.
Bel sekolah berbunyi, bertanda semua warga sekolah masuk ke kelasnya masing-masing. Naura pun masuk ke kelasnya, dia memilih duduk dibangku urutan ketiga dari depan bagian kanan dekat jendelah sebangku dengan Rara, sahabatnya. Kelihatannya, Naura sangat senang karena dia mempunyai kenalan baru, itu karena pergeseran kelas yang lalu. Naura sangat bersyukur karena dia dapat memasuki kelas VII.Utama. Walaupun dia tidak mendapat peringkat sepuluh besar umum, tapi dia tidak mau berputus asa. Di depannya ada Laras dan Dinda dari kelas VII.3, dan dibelakang ada Fara dari kelas VII.2 dan Indah dari kelas VII.3. mereka semua terlihat akrab.
Tak terasa ulangan kenaikan kelas pun tiba, Naura pun lebih rajin belajar agar ia dapat memasuki peringkat sepuluh besar umum. Usahanya pun tidak sia-sia, karena pada saat pembagian rapor, Naura menempati peringkat 7 besar umum. Naura sangat senang dan tak lupa ia bersyukur kepada Allah SWT. Namun, kebahagiaan Naura seakan hilang begitu saja setelah mendengar pengumuman bahwa Dinda, sahabatnya pindah kelas yang digeser oleh siswa dari VII.1 yaitu Salsah, Sisil, dan Karin. Bukan hanya Dinda saja yang pindah kelas, namun, Santi, Andi, dan Heri pun ikut pindah. Naura pun hanya bisa memberikan semangat pada Dinda.
“sabar ya Din, mungkin ini hanya cobaan buat kamu. Biar nanti kamu bisa belajar lebih giat dari sebelumnya. Aku yakin semester nanti kamu pasti bisa masuk utama lagi, percaya deh sama aku”hibur Naura
“hiks...hiks..,”Dinda hanya menangis dipelukan Nesta, sahabatnya dan Naura. Sepertinya dia belum bisa menerima kenyataan pahit ini.
“sabar ya Din,”hibur Nesta
***
Tahun ajaran baru, kelas baru, dan teman-teman baru. Sekarang Naura udah kelas II SMP. Gak terasa ya, waktu cepat berjalan. Hari ini, Naura berangkat ke sekolah. Tak berapa lama, dia pun sampai di sekolahnya. Karin pun langsung menghampirinya.
“Hai, apa kabar?”sapa Karin
“ug, alhamdulillah baik. Kamu?”tanya Naura balik
“sama, aku juga baik”jawab Karin
“oya, gimana liburannya?”tanya Naura
“hmm.., biasa-biasa aja, kamu?”tanya Karin balik
“sama, biasa-biasa aja gak ada istimewanya”jawab Naura
“ke kelas yuk!”ajak Karin
“Ayo.. !”kata Naura
Mereka pun pergi ke kelas barunya. Tak lama kemudian, teman-teman yang lain pun sudah berdatangan.
Hari ini, aktivitas belajar mengajar tidak berlangsung karena hari ini adalah Masa Orientasi Siswa kelas I. Di depan kelas II, tampak dua orang siswi sedang ngobrol. Ternyata orang itu adalah Naura dan Dinda.
“Ra aku harus rajin belajar supaya aku bisa masuk kelas utama lagi”kata Dinda semangat
“iya Din, kamu harus giat belajar ya”kata Naura
“iya Ra. Oya Ra, kamu mau ngajarin aku gak, kalau ada mata pelajaran yang gak aku ngerti? Supaya aku bisa masuk kelas utama lagi”tanya Dinda
“iya Din, aku bakal bantu kamu kok, semampu aku. Asalkan kamu juga rajin belajar”jawab Naura
“ok Ra”kata Dinda
Obrolan mereka pun terhenti, karena teman-teman Naura telah kembali dari kantin.
***
Liburan Ramadhan pun telah berakhir, dan tibalah waktunya bagi para siswa untuk menjalani aktivitas belajarnya di sekolah. Hari ini, adalah hari pertama sekolah. Hari ini, aktivitas belajar mengajar tidak berjalan dengan baik karena semua sibuk bermaaf-maafan. Maklumlah, mereka habis merayakan Idul Fitri tiga hari yang lalu. Jadi, wajarlah kalau mereka semua meminta maaf kepada yang lain. Naura pun tidak ketinggalan, dia juga ikut meminta maaf kepada orang yang dikenalnya di sekolah. Hari ini, ternyata Dinda tidak naik sekolah, entah apa sebabnya. Naura beranggapan mungkin Dinda lagi pergi silaturahmi ke rumah keluarganya, dan hari itu pun berlalu.
Udah beberapa hari ini, Dinda gak naik sekolah tanpa keterangan yang jelas. Naura bingun, kenapa Dinda gak naik sekolah? Padahal aktivitas belajar mengajar udah dimulai beberapa hari yang lalu. Berbagai pertanyaan muncul dibenak Naura. Akhirnya, pertanyaan Naura pun terjawab. Siang itu, Naura mendengar kabar bahwa Dinda talah berhenti sekolah. Alasannya adalah dia malu karena telah beberapa hari ini dia tidak naik sekolah. Naura sangat sedih, karena Dinda sudah putus sekolah. Padahal sebulan yang lalu, ia sempat ngobrol dengan Dinda. Dinda meminta dia untuk membantunya, agar Dinda bisa masuk ke kelas utama lagi. Begitu mudahnya Dinda putus asa, padahal cita-citanya begitu tinggi. Naura sangat sedih, akan nasib Dinda yag ternyata mimpinya tertunda.
Tak sampai disitu saja, setelah Dinda putus sekolah sebulan yang lalu. Naura mendengar kabar lagi, bahwa temannya, Laras juga berhenti sekolah. Alasannya adalah Laras dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Padahal umur Laras masih mudah, sebenarnya Laras tidak menyetujui perjodohan itu. Tapi, apalah daya Laras hanya dianggap boneka oleh kedua orangtuanya. Laras hanya bisa menuruti permintaan kedua orangtuanya. Walaupun, ia harus mengorbankan mimpinya, yaitu menjadi orang yang sukses. Hati Naura miris, mendengar kabar akan nasib yang menimpa temannya. Kedua temannya harus berhenti sekolah karena terpaksa. Kini, Naura hanya berharap agar kejadian ini tidak terulang kembali, dan dia harap semoga mimpi teman-temannya yang lain bisa terwujud. Walaupun badai rintangan menghadang. Aamiin...
SEKIAN
Alasan si pengarang menciptakan cerpen ini :
Moga si pembaca bisa mengambil hikmah dan termotivasi akan cerpen yang saya buat. Janganlah takut bermimpi. Raihlah mimpimu walaupun berbagai rintangan datang menghadangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar