Sabtu, 31 Agustus 2019

Perihal Lelah





Jika gugur saja bisa menjelaskan daun lelah pada ranting?

Kenapa harus meminta penjelasan?

Sama seperti langit yang menghadirkan rinai mengabarkan ia tak baik, suara gemuruh menandakan amarah. Ya, sama halnya dengan balasan chatmu yang ia baca tanpa berkenan untuk membalasnya. Tanpa perlu penjelasan, kau pun cukup paham bukan? Ia teramat lelah denganmu, ia sudah tak menganggapmu rumah ternyaman tempat pulang melepas penat. Lebih tepatnya, mungkin ia telah menemukan rumah baru untuk menentap.

Sudahlah, Sayang.

Tak perlu kau cemaskan ia, saat penghuninya telah beranjak. Jangan kau cegah, terlebih lagi memohon ia kembali lagi. Percayalah, saat penghuni lama pergi akan datang penghuni baru yang bukan hanya menjadikanmu rumah tempat menetap melainkan bagian hidup yang harus ia bawa kemana pun ia pergi.

Kau bukan hanya sekedar rumah yang hanya pelepas lelah. Kau adalah puisi yang hanya penyairnya mampu memaknai. Kau adalah pena bagi sang penulis, tanpa dikau kertas hanyalah lembaran kosong tak bernyawa. Kau adalah kau. Kau adalah bagian dari sosok yang lebih menghargaimu lebih dari sekedar tempat pulang.

Percayalah!




_Sri Wahyuni

Senin, 10 Juni 2019

Buku Definisi Patah Hati

Berbicara tentang Patah Hati, hampir sebagian besar di dunia ini pernah ngerasain yang namanya Patah Hati. Patah hati awalnya berawal dari cinta yang ujungnya menyisakan luka di hati. Eaaaa. Gak bisa dipungkiri bahwa umat manusia pernah jatuh cinta. Dan jatuh cinta inilah awal mula dari Patah Hati. Hehehehe. Ada banyak definisi tentang Patah Hati bahkan sampai jutaan. Ya, tergantung dari sisi mana kita memaknai hal tersebut.

Jika Patah Hati pada umumnya bermakna putus cinta. Lantas bagaimanakah Patah Hati menurut buku yang satu ini? Buku pertama yang berhasil aku hadirkan di dunia Sastra. Buku yang membahas sebagian besar perihal Patah Hati dari berbagai sudut pandang.



Jika kalian penasaran, jomlah segera miliki bukunya!

Judul               : Definisi Patah Hati
Penulis             : Sri Wahyuni
Penerbit           : Alra Media
Pemesanan      : 082333804036

Sabtu, 08 Juni 2019

Tentang Jarak yang Menjaga



Gambar terkait 

Jangan ada lagi kata peduli di antara kita. Kau, aku, adalah dua orang asing yang tak akan pernah bersama. Bukan seperti air dan minyak, meski berbeda namun berdampingan. Tapi, layaknya langit dan bumi. Ia ada, namun tak di takdirkan untuk menyatu. Kenapa?
Karena jika keduanya menyatu, maka takkan ada kehidupan lagi di dunia ini.
Aku salah,
Kenapa aku menaruh harap pada seorang Langit, sedang aku adalah Bumi. Jarak yang membentang jauh, adalah jawaban jika kita adalah dua hal yang berbeda.
Menatapmu saja, aku tak sanggup. Kau jauh dari jangkaunku.
Terlebih untuk menghampirimu.
Ya,
Aku sadar, itu adalah kesalahan terbodohku.
Maka, izinkanlah aku untuk tetap menjadi Bumi yang menjaga jarak kepada Langit. Agar kehidupan di dunia berjalan dengan baik. Meski ada sedikit ego untuk berharap pada Langit. Namun akhirnya, semua harus pengorbanan. Ya, lihatlah aku.
Bumi.
Yang rela memendam harap pada Langit, demi sebuah kehidupan baru.



~Nii

Jumat, 07 Juni 2019

Perihal Ucapan


Ahad, 8 Juni 2003
Waktu di mana kesendirianku akan berakhir. Karena saat itulah Tuhan menghadirkanku seorang adik dengan rambut ikal lebat nan imut.

Dan..

Sabtu, 8 Juni 2019
Kita kembali mengulang tanggal itu, namun kini telah berbeda setelah mengalami perputaran waktu  16 tahun lamanya.
Tak terasa sosok adik yang dihadirkan Tuhan kini telah beranjak remaja, meninggalkan masa kekanak-kanakannya.

Jujur saja,
Aku bukanlah Kakak yang baik, bukan pula seorang Kakak yang perhatian. Namun, satu harapanku dimomen berhargamu ini ialah  tetaplah menjadi sosok yang membanggakan. Buatlah orang terdekatmu bangga!
Tetap istiqomah dalam proses hijrahmu, hingga engkau benar-benar menggapai Cinta-Nya yang selama ini kau cari.

Selamat mengarungi kehidupan dengan umur yang berbeda!
Ingatlah! Selalu ada orang-orang yang mendukungmu dari belakang. :)


~Nii

Senin, 27 Mei 2019

Taaruf dalam Doa



Mengeja namamu dalam DOA adalah kebiasaan yang tak dapat kucegah
Memintamu pada Tuhan adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan
Kita berjarak, ada ratusan atau bahkan ribuan kilometer pemisah diantara kita
Aku tak peduli
Nyatanya, aku masih senang dengan DOAku
Aku masih senang bercerita kepada Tuhan perihal dirimu
Tentang dikau yang sedang dalam pengembaraan
Tentang dikau yang kukagumi dengan sungguh
Tentang dikau yang sampai saat ini masih enggan untuk mengetuk pintu rumahku
Apa kau malu, Wahai Sang Musafir?
Apa kau masih tak percaya dengan diriku?
Masih tak percaya bila selama ini, akulah sosok wanita yang terang-terangan memintamu pada Tuhan?
Ah!
Tidak apa
Mungkin kau masih butuh waktu untuk meyakini hatimu
Suatu saat kau akan percaya, Tuan
Suatu saat kau akan mengetuk pintu itu
Dan, biarlah DOA itu yang menuntunmu kemari
Entah kapan, aku tak tahu
Namun aku selalu percaya, Tuhan tak pernah membuatku kecewa
Sebab sesungguhnya kita sudahlah saling mengenal
Bermula saat kau dan aku melangitkan DOA yang sama
Yaitu memohon pasangan yang terbaik hingga Jannah-Nya


~Nii

Palekoreng, 28 Mei 2019
06.14 WITA

Sabtu, 27 April 2019

Perihal Jingga

Kala senja mengabarkan tentang kepergian
Aku bisa apa?
Menatapnya penuh pengharapan
Menikmati goresan jingga yang menenggelamkan diri dalam balutan petang
Hai Sang Pemilik Takdir!
Akankah ia datang?
Membawa segenggam kekuatan
Untukku yang tengah bertahan
Dalam balutan doa yang penuh rintihan
Hingga kupercaya
Buah kesabaran tak pernah berkhianat


~Nii


Palekoreng, 30 April 2019

Kamis, 25 April 2019

Mencintaimu dengan Sederhana


Jika ada yang mencintaimu sedalam lautan, itu bukan aku
Jika ada yang menyayangimu sebesar dunia, percayalah itu bukan aku
Jika ada yang mengagumimu seluas langit di angkasa, percayalah itu juga bukan aku

Kenapa?

Sedalam-dalamnya lautan, ada kala ia akan surut
Sebesar apapun dunia, suatu saat akan hancur
Pun dengan langit, ada saatnya ia akan runtuh

Mencintai bukan seberapa dalam, besar atau luas, namun seberapa lama engkau bertahan dengan apa yang engkau cintai.
Seberapa yakin engkau meneguhkan hatimu pada sosok yang kamu pilih.

Sederhananya, mencintai perihal penerimaan. Menerima kekurangan pun dengan kelebihan masing-masing. Mencintai itu perihal kerelaan, keikhlasan. Pun dengan aku, yang mencintaimu dengan hijaunya padi di pagi hari. Meski aku tahu, suatu saat ia akan menguning demi sebuah penghidupan di masa depan.



-Nii



Palekoreng, 25 April 2019
21.04 WITA

Kamis, 10 Januari 2019

Hanya 2 Orang Asing

Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan secara tidak sengaja yang disebut 'takdir'. Engkau hadir dalam hidupku, mengubah alur prosaku.
Aku tak pernah memintamu untuk hadir, begitu pun dengan dikau tak pernah meminta untuk hadir dalam prosaku. Bagaimana pun kita hanyalah dua orang asing dengan jalan takdir masing-masing, sempat bersinggungan namun tetap pada jalurnya. Menjalani prosa masing-masing.
Dan, bodohnya aku.
Ku pikir, engkau adalah lawan mainku. Pada prosa yang ku jalani sebagai tokoh utama, nyatanya kau hanyalah sebuah figuran. Tak banyak yang ku cerita perihal dikau, karena kau hadir dengan perkenalan lepas itu hilang.
Aku yang menyadari hal itu pun tak memaksamu untuk tetap menjadi lawan mainku, bukan? Bagaimana pun engkau punya kisah lain. Dan..
Kau telah memilih lawan mainmu sendiri. Itu bukan aku!

Senin, 07 Januari 2019

Blueband - Rindu Celoteh Manis Bersamamu

"Pagi tak akan indah, tanpa sejuknya embun.
Penghujung siang tak akan romantis, tanpa adanya senja.
Malam tak akan sempurna tanpa gemerlap bintang dan rembulan.
Dan.. Dunia tak akan pernah berarti, tanpa kehadiran kalian.
Kalian dengan watak yang berbeda. Namun, bisa menyatuh layak pelangi sehabis hujan hari itu. Berbeda, tapi indah di pandang.
Terima kasih untuk waktu 1 tahun ini.
Semoga tetap seperti ini untuk tahun depan, dua tahun yang akan datang, dan untuk tahun2 selanjutnya.
Hingga kita dipertemukan kembali di tempat yang indah. Yaitu, Jannah-Nya. 😇
Sayang kalian 😍😘 #Blueband2017"


Masih ingat kutipan itu?
Ya, kutipan di mana tepat satu tahun persahabatan kita. 20 September 2018. Aku tak akan lupa itu, Sahabat.

Gak kerasa, Januari kembali hadir sahabat. Liburan semester telah menyapa. Entahlah sudah berapa minggu kita gak bersua. Sepertinya kata "Rindu"itu telah hadir menghantui, teman. Rasanya aku ingin cepat-cepat menghabiskan masa libur ini lepas itu bertemu dengan kalian. Kita kerjakan rutinitas kita setiap hari kuliah. Belajar di kelas, singgah di kos, kerja tugas di warkop atau piknik di Taman Padduppa. Semua kita lakukan secara bersama. Kita akan mengukir cerita lagi, dan kita abadikan.

Jangan pernah berubah ya,
Tetaplah menjadi sosok yang kukenal dari pertama kita bersapa hingga hari ini dan seterusnya. Tetaplah saling menguatkan. Saling memotivasi, saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

Aku sayang kalian.
Ku harap, persahabatn kita lebih erat dari hari ini.