Sabtu, 11 Maret 2017

Goresan Pena


Rasa itu..,
Masih bersemayam didalam hatiku..
Tak dapat ku pungkiri,
Bahwa..
Namanya,
Masih terukir indah disana..
Dan,
Entah dengan cara apa ??
Aku bisa menghapusnya..,
Karna namanya..,
Telah merekat secara permanen di sana...



#salamsahabatPena

Cerpen - Rasa yang Tertinggal



RASA YANG TERTINGGAL

 “aku juga dong, aku kan duluan”
“aduuhhh, antri dong kalau mau foto, aku juga mau tahu”
“please deh, jangan dorong-dorong deh”
                Suara teman-temanku yang berebutan minta tanda tangan dan foto bareng sama pemain Timnas U15. Yapz, pemain Timnas U15 baru saja tiba dari Makassar. Mereka datang kesini karna ada 2 pemain Timnas U15 yang berasal dari kota aku sekaligus bakal debut dengan Gaswa, tim bola terbaik dikotaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang saling berebutan minta foto bareng, serasa lagi ketemu artis  aja. Maklum aja sih, pemain Timnas U15 itu cakep-cakep terus berasal dari berbagai provinsi.
                Aku yang  tak bisa berebutan bersama teman ku, melangkahkan kaki ku tuk menjauh dari area tersebut. Sedikit kecewa sih tak dapat foto bareng dengan pemain Timnas U15, tapi kalau melihat situasi seperti itu. Mending aku mundur saja, mungkin belum waktunya kali foto bareng pemain Timnas U15.
                Aku pun menjauh dari area tersebut, sesekali menoleh kebelakang berharap rebutannya bakal berkurang. Namun, ternyata malah makin bertambah. Aku pun semakin mempercepat langkahku dengan kepala menuduk. Sampai-sampai aku tak sengaja menabrak seseorang.
“ehh..,maaf ya. Aku gak sengaja. Yaaa.., minumannya tumpah” kataku penuh penyesalan
“iyya, gak apa-apa kok” tersenyum kepadaku
“maaf banget ya, aku ganti minumannya deh sebagai permintaan maaf aku. Gimana??”
“hmm..,ok deh”
Walaupun aku gak tahu cowok itu siapa, tapi aku merasa bersalah jika tak mengganti minumannya yang tumpah gara-gara aku.
Di trotoar
“kamu kok gak gabung bareng mereka yang berebutan minta foto juga. Kamu gak mau minta foto bareng pemain Timnas U15” tanyanya padaku
“malah mau banget sih, tapi gimana ya. Kalau rebutannya sebanyak itu, aku mah gak bisa atuh”kataku
“sini hp nya”
“mau ngapain??”
“kamu gak mau foto bareng sama aku? aku kan pemain timnas juga”
“terus kok kamu gak gabung ke sana??”
“yaa.., tadi aku haus jadi pergi beli minuman. Lagiankan disini ada kamu”
“hahahaha.., ada-ada aja kamu. ohh iyya, nih” kataku gak percaya sambil memberikan hp aku kepadanya
                Ternyata cowok didekatku ini pemain Timnas juga, pantas aja aku gak ngenal wajahnya. Awalnya aku kira sih dia cowok dari sekolah lain, gak tahunya pemain Timnas. Ini mah namanya ULTRAREJEKI. Tanpa rebutan bisa foto bareng juga, satu mah gak apa-apa asal foto bareng pemain Timnas. Cakep lagi. Hahahaha.
“aduuhh.., makasih ya udah foto bareng ma aku”
“iyya, makasih juga udah dibeliin minuman”
“iya, kalau gitu aku balik ya” kataku sambil bangkit dari dudukku
“iyya hati-hati ya”
“ok”
                Aku pun melangkahkan kakiku berjalan meninggalkan dia. Belum 3 langkah aku melangkahkan kakiku, dia memanggilku. Aku pun terhenti,namun tak menoleh kepadanya.
“nama kamu siapa??”
“Melodi” kataku melanjutkan langkahku
                Belum sempat lagi aku melangkah, dia memanggil namaku lagi. Akupun terhenti. Kudengar suara langkah kakinya berjalan kearahku. Dan akhirnya, dia berada tepat didepanku. Aku diam membisu, tak dapat berkata apa-apa. Hening. Beberapa saat. Dan..
“Mel, boleh minta nomor hp kamu??”
“hah??” kataku heran
“aku boleh gak minta nope kamu?” dia mengulang pertanyaannya
Aku yang tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa memberikan hpku. Dia pun meraihnya dan menulis nomornya dan menghubungi hp nya.
“yapzz., ini hp nya. Aku udah save nomor aku disitu. Makasih ya” dia mengembalikan hp aku
Aku hanya membalas dengan anggukan, seraya pergi meninggalkan nya.***
                Pagi ini, disekolahku khususnya dikelas aku. Trending topiknya adalah Timnas U15. Tampak jelas kuliat mereka pada pamer foto-fotonya dengan pemain Timnas U15 sambil bercerita sana-sini tentang Timnas U15. Aku hanya menggeleng-geleng kepala melihatnya menuju tempat dudukku yang paling depan. Lalu duduk sambil membaca buku pelajaranku.
                Tampak jelas ditelingaku, suara teman-temanku yang dengan bahagianya bercerita tentang pemain Timnas itu. Sampai-sampai ada yang tidak konsen belajar. Hingga bel jam pulang berbunyi, topik itu masih hangat diperbincangkan.
                Aku segera membereskan perlengkapanku. Teman-teman ku sudah pergi 5 menit yang lalu, mereka terlalu buru-buru pulang gara-gara takut gak kedapatan kursi distadion nanti. Karna sore ini Timnas U15 akan debut dengan Gaswa. Berbeda dengan diriku, aku dengan santainya berjalan tanpa terburu-buru. Jujur saja, aku tak berniat untuk pergi nonton bola. Bukannya aku gak suka ya, tapi percuma juga pergi ke sana. Toh, disana bakal penuh dengan cewek-cewek ganjen.
                Sampai dirumah, ku rebahkan diriku diatas kasur kesayanganku. Lelah juga, selama 15 menit dalam perjalanan pulang jalan kaki dengan panas matahari yang makin menjadi-jadi akibat pemanasan global. Karna terlalu capek, aku pun terlelap dalam tidurku dan gak sadar kalau sudah waktunya ashar.
                Sebenarnya aku masih ingin terlelap dalam mimpi indahku, tapi suara dering hpku memaksaku untuk bangun. Aku gak tahu, siapa yang menelpon sore-sore begini. Kayak gak ada kerjaan lain. Dengan malasnya aku meraih hpku yang tergeletak tak berdaya disamping tempat tidur. Sambil mengucek-ngucek mataku, aku mengangkat telpon tersebut tanpa melihat nama yang tertera dilayar hpku.
“halo” kataku
“assalamu’alaikum, Melodi” sapa seorang cowok diseberang sana
“Wa’alaikumussalam, ehh.., kamu yang kemarin itu ya” tanyaku tak percaya
“iyya, aku Candra. Kamu pasti baru bangun ya??”
“ihh.., kok tahu sih. tumben nelpon, inikan waktunya kamu tanding”
“iyya, justru itu aku nelpon kamu”
“emang ada apa??”
“kamu datang ya ke stadion buat nonton aku. Pleaseeee...!!”pintanya
“aduuhh.., gimana ya. Disana pasti udah ramai, aku gak bisa Candra” tolakku
“please Mel, aku pengen kamu datang buat liat aku. Aku butuh support dari kamu. Please.., datang ya. Aku tunggu di depan stadion deh”
“hmmm..., gimana yaaa”
“kali ini aja Mel, ini kan pertandingan pertama dan terakhir aku disini. Masa kamu gak mau liat aku sih”
“iyya deh, aku kesana. 15 menit lagi”
“makasih ya Mel”katanya seraya menutup telpon
                Aku pun segera berganti baju, dengan sedikit polesan make-up diwajahku. Kalau saja, dia gak ngemis-ngemis minta aku liat dia tanding. Aku mah ogah pergi kesana, menyaksikan cewek-cewek ganjen yang teriak kayak mak lampir itu. Huuffttt.., dasar-dasar.***
                Deretan motor yang tertata rapi diparkiran, membuatku yakin kalau didalam sana telah penuh dengan penonton. Khususnya para cewek-cewek ganjen. Setelah membanyar ongkos, akupun turun dari angkot yang kutumpangi itu. Seraya melangkah menuju area tersebut, didepan sana tampak kuliat jelas sosok pria dengan pakaian bola merah-putih sedang menunggu seseorang. Akupun menghampiri pria itu.
“heeiii.., nunggu apa pak”
“ehh.., Melodi. Akhirnya kamu datang juga”
Tiba-tiba, seorang cowok dengan seragam yang sama menghampiri Candra sambil berkata
“Ehh..,Cand. Ternyata kamu disini, pelatih dari tadi nyariin kamu tuh.”
“okk.., aku segera kesana. Mel yuk masuk” ajaknya sambil menarik tanganku
                Akupun mengikutinya dari belakang, tatapan aneh dari penonton yang melihat kearah kami membuatku menjadi tidak nyaman dengan pemandangan seperti ini.
“Mel, kamu duduk sini ya nonton aku”
“aduuhhh., Candra. Disinikan tempatkan para pemain Timnas U15, lah aku kan Cuma penonton. Aku ke atas aja ya”
“Please Mel, kamu disini aja ya. Disini gak apa-apa kok, aku uda ijin sama pelatih aku”
“yaa.., sudah deh. Aku semangat ya Cand” kataku tersenyum
“Makasih Mel, aku kesana dulu ya” katanya sambil berlari kearah tengah lapangan
                Debut antara Timnas U15 dan Gaswa telah dimulai, penyerang dari Timnas U15 membawa bola. Namun, tak disangka bola itu berhasil direbut oleh penyerang Gaswa. Jelas kuliat wajah Candra tampak cemas melihat hal itu, yang mana penyerang dari Tim Gaswa kini menuju kearahnya dengan membawa bola lalu menendangnya kearah gawang. Dan.., syukurnya. Candra dapat menangkap bola tersebut. Aku yang melihatnya menjadi gemetar saja, apalagi pemainnya. Selama 45 menit, debut antara Timnas dan Gaswa masih 0-0. Dan tibalah sang wasit membunyikan peluitnya tanda istrahat.
                Kedua tim pun kembali ke tempat istrahat sambil merencanakan strategi baru. Aku yang sedari tadi memegang sebotol air mineral menyondorkan ke Candra yang duduk istrahat disampingku
“nih, pasti kamu belum minum kan” kataku sambil bangkit dari kursi lalu duduk disamping Candra direrumputan
“makasih ya” kata Candra meraih air mineral itu dan meminumnya
“nih sapu tangan, wajah kamu keringetan tuh” ku sondorkan sapu tangan milikku padanya
“ohh yaa”
“iyyaa.., sini biar aku yang lapin”
Akupun mengelap wajahnya yang penuh dengan keringat. Tak sengaja mataku dan matanya beradu pandang hingga terjadilah contac eyes beberapa detik. Sempat membuat jantungku berdebar kencang. Segera ku alihkan pandanganku.
“kamu kenapa Mel”
“enggg.. gak kok” kataku segera berhenti mengelap wajahnya
“makasih ya, aku ke pelatih dulu ya..”
“iyyaaa.. fighthing Candra. kamu pasti bisa” teriakku melihat ia bergabung kepelatihnya
15 menit telah berlalu.
Kedua tim pun kembali debut ditengah lapangan. Pertandingan semakin sengit, karna masih skor 0-0. Namun, pada detik-detik terakhir Timnas U15 mencetak gol 4 kali. Sehingga skornya 4-0, sampai wasit meniupkan peluitnya tanda permainan telah selesai.
                Sorak penonton semakin menjadi-jadi bahagia atas kemenangan Timnas U15. Tak kalah dengan teriakan cewek-cewek ganjen yang membuat bulu kundukku merinding. Dasar cewek alay. Kataku dalam hati.
                Para pemain Timnas U15 bersorak gembira dan bersujud ditengah lapangan atas kemenangan yang ia capai. Tak lama kemudian, para penonton turun kelapangan untuk minta foto bareng Timnas U15. Terutama para cewek. Saling rebutan sana sini deh jadinya. Aku hanya memerhatikan dari jauh. Kuliat seorang pemain Timnas U15 berlari ke arahku. Sudah ku duga, kalau itu adalah Candra. Disaat dirinya pengen direbutin sama cewek buat foto bareng, dia malah kabur seperti ini. Dasar cowok aneh.
“kabur lagi” kataku saat ia sampai
“capek ya, nih minum” kataku lagi menyodorkan mineral
                Ia meraihnya dan meminumnya. Lalu duduk direrumputan dibawah tribun. Akupun melakukan hal yang sama. Menyaksikan anak-anak yang masih sibuk ditengah lapangan. Hening. Beberapa menit, sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan akhirnya, aku memulai pembicaraan..
“selamat ya”
“iyya mel, ini berkat kamu karna udah datang nonton aku”
“itu karna kemauan dan kerja keras kamu Cand, kamu harus bisa meraih impian kamu dan mengharumkan nama bangsa. Ok”
“iya Mel, aku janji”
“Cand, kayaknya aku harus balik. Bentar lagi mau magrib” kataku sambil melihat jam tanganku
“aku antar ya”
“enggak usah deh, kamu kan harus ngumpul bareng tim kamu. Aku gak apa-apa kok”
“hati-hati ya Mel”
“iyya”
                Mentari sore itu, kini perlahan mulai tak menampakkan sinarnya. Tenggelam dibalik cakrawala bersama dengan sejuta rasa yang terpendam.***
                Minggu pagi ini, aku merasa enggan melakukan aktivitas. Aku masih ingin bersemayam dibalik selimutku. Namun, suara bunda yang membuatku harus bangun pagi. Padahal, hari ini libur. Setelah mandi, ganti baju. Aku pun keluar dari kamar kesayanganku.
“kamu kok lama banget sih Mel, liat tuh teman kamu sedari tadi udah nungguin kamu. Susah banget sih dibangunin??” omel bunda padaku
“hah?? Teman bun??” kagetku. Tumben-tumbenan ada temanku yang datang pada hari minggu, biasanya juga kalau ada perlu pasti ngasih kabar dulu, ada apa ya. Batinku.
“iyyaa..  tuh diluar. Disamperin gih”
                Segera ku samperin orang yang dimaksud Bunda. Dann...
“Candra..”
“Selamat pagi Mel”
“ehh.., kok kamu tahu sih rumah aku” heran ku
“iyyaaa.., aku nanya sama teman sekolah kamu. Jadi aku tahu deh”
“sampai segitunya, emang ada apa sih Cand” tanyaku sambil duduk disofa dekat Candra
“aku mau ajak kamu jalan-jalan seharian hari ini. Mumpung waktu luang, kamu mau kan??”
“iyya deh, aku siap-siap dulu ya”
“gak usah, kamu udah cantik kok pakai baju itu”
“ahhh.., kamu tuh ya. Kerjaan nya Cuma ngegombal aja. Kalau gitu aku pamit dulu ya sama bunda” kataku
“sipp deh”
                Setelah pamit sama bunda, aku pun pergi bersama Candra. Seharian ini, kami jalan-jalan keliling kota. Banyak hal yang kami lakukan, pergi ke Mall, toko buku, pelataran, dan pantai. Kami sangat menikmatinya, sampai-sampai tak sadar kalau hari sudah berganti malam, terakhir kami kunjungi adalah taman. Kami duduk dibangku pojok taman sambil memandangi bintang yang berkelap-kelip di langit. Aku sangat menikmati malam ini
“Mel..”
“ya”
“aku pengen malam ini menjadi malam yang panjang buat aku, agar aku bisa lebih lama didekat kamu Mel”
“hahahaha.., kamu ada-ada aja ya Cand”
“aku serius Mel, aku pengen berada lebih lama didekat kamu”
                Beribu pertanyaan yang muncul dibenakku, namun aku tak berani mengajukannya kepada Candra. Aku berpikir ada sesuatu yang disembunyikan Candra dari aku, walau aku baru saja akrab dengannya. Tapi, aku merasa sudah lama kenal dengannya.
“mel..,” katanya lagi
“mm”
Aku menoleh padanya, dan tak sengaja mataku dan matanya beradu pandang. Getaran itu, ya Tuhan.. Getaran itu kembali lagi, ada apa dengan aku ini?? apa aku??? Ahhh.., tak mungkin. Aku baru saja kenal dengan dia. Gak mungkin aku suka sama dia, yaaa gak mungkin. Aku harus menepis semua rasa ini, ini bukan Cinta. Yakin lah Mel, ini bukan Cinta.
                Tiba-tiba suara gemuru terdengar.
“kayak nya mau ujan, aku antar kamu pulang ya”
Aku hanya mengangguk tanda setuju, dalam perjalanan pulang semua diam membisu. Suasana menjadi cangggung, hanya suara gemuru yang sesekali terdengar memecah keheningan kami berdua. Malam semakin larut, hanya satu atau dua kendaraan yang lalu lalang dijalan raya. Menyusuri jalan setapak yang semakin sunyi.
“Cand, makasih ya udah anterin”
“iya, sama-sama”
“hmm.., gak mampir dulu”
“gak usah mel, nanti keburu ujan. Aku balik ya”
“hati-hati Cand” ucapku seraya masuk kedalam rumah.
                Pagi ini, seperti biasa. Rutinitas sekolahku berjalan seperti biasanya. Saat aku ingin masuk ke kelas tiba-tiba seseorang memanggilku.
“Mel” aku menghentikan langkahku dan berbalik menoleh siapa yang memanggilku dan ternyata Shiren, tetangga kelasku
“ada apa Ren”
“aku Cuma anterin ini buat kamu” sambil memberikanku semua kotak
“buat aku?? Dari siapa Ren??” tanyaku heran
“dari Candra”
“Candra?? kok bisa sampai kamu yang anter??” tanyaku semakin heran
“kamu gak tahu ya, hari ini kan Candra udah balik lagi ke Makassar buat persiapan ke Malaysia. Kalau masalah kotak itu aku juga gak tahu Mel, dia Cuma bilang tolong kasih Melodi karna mungkin aku gak sempat ketemu dia”jelasnya
                Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera berlari keluar halaman sekolah menyusul Candra. Aku semakin mempercepat langkahku untuk berlari, berharap aku bisa bertemu dengan Candra untuk yang terakhir kalinya. Lelah, haus tak kuhiraukan. Dipikiranku hanya satu yaitu bertemu Candra. Namun, perjuanganku sia-sia. Mobil rombongan Candra telah pergi bersamaan dengan diriku sampai di depan hotel. Aku pun tersungkur ke tanah. Air mataku mengalir dengan derasnya ditengah derasnya hujan, aku memanggil namanya..
“Candraaaaaa.......”teriakku
Tak kuhiraukan perhatian orang yang lalu lalang melihatku. Kini sekujur tubuhku basah dengan air hujan. Akupun berusaha untuk bangkit dan berjalan tertatih menuju tempat untuk bertedu..
                Ku buka kotak pemberian dari Candra, kuliat sebuah liontin cantik berbentuk hati yang didalamnya terdapat fotoku dan fotonya waktu kali pertama aku berjumpa dengannya. Dan sepucuk surat, aku membuka surat itu..
Dear Melodi..,
maaf ya,
aku pergi gak bilang-bilang,
aku terpaksa melakukan ini Mel,  aku gak mau kamu liat kepergianku karna itu akan membuat aku sakit dan gak ingin ninggalin kamu Mel.
Mel..,
ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu..,
sejujurnya..
aku suka sama kamu Mel..
aku sayang kamu Mel..
aku cinta sama kamu Mel..
tapi..,
aku juga harus mengejar impianku Mel dan mengharumkan nama bangsa. Seperti yang kamu katakan waktu itu distadion.
jika impian aku tercapai..,
aku ingin menemuimu Mel..,
aku gak peduli seberapa jauh dan  seberapa lama kita berpisah..
asal saat aku bertemu dengan mu, kamu menjadi milikku mel..,
Mel..,
biarkan aku mencintaimu..
menjadikanmu sebagai motivatorku..
aku sayang kamu..
Aku harap kamu bisa nungguin aku Mel...
Candra
                Aku terisak membaca surat dari Candra. Aku akan menunggu mu Cand. Biarkan aku mencintaimu dengan keadaan seperti ini. Aku yakin janji cinta suci tak akan pernah salah. Batinku.
                Hujanpun kini telah berhenti, mataharipun perlahan tenggelam. Tanda malam segera tiba. Ku langkahkan kakiku telusuri jalan setapak dalam keadaan basah kuyup akibat kehujanan tadi. Dalam hatiku telah berjanji akan menunggunya, seberapa lamapun, 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, sampai menutup matapun aku sanggup. Asal bersamanya membuatku bahagia. Karna rasa yang tertinggal telah bersemayam dengan indah didalam qalbuku.. ***
END



#salamsahabatPena

Jumat, 10 Maret 2017

Suara Hati

Suara Hati


Saat semuanya telah berubah..
Saat itulah semua yang telah terjadi akan menjadi sebuah kenangan..
Dimana kenangan itu bisa menjadi kenangan manis atau mungkin menjadi kenangan yang pahit.
Dan aku..
Aku hanya diam,
Membisu, membiarkan semua yang terjadi menjadi begitu saja..
Entah kenapa ??
Saat itu,
Aku menjadi seseorang yang terlupakan..
Terlupakan..
Karna memang selama ini tak ada seorang pun yang menganggap keberadaanku..
Yapz..
Hilang..
Hilang ditelan kesunyian malam yang mencekam..
Raga yang ada menjadi mati..
Karna...
Keegoisan masing-masing..
Yang tak dapat,
Berdamai dengan keadaan..



#salamsahabatPena

Aku dan Kamu..


Aku tahu..
Kita beda...
Aku penikmat Fajar..
dan kau pengagum Senja..
Aku penggemar Hujan..
dan kau pecinta Bintang..

Seharusnya dari dulu aku tahu,
Bahwa Fajar dan Senja..
Tak mungkin saling menyapa..
Laksana,
Hujan dan Bintang..
Ia tak mungkin datang bersamaan..

Tentang Hujan

Tentang Hujan 


Kau tahu..
Ada yang lebih romantis dari hujan yang selalu datang meski tahu rasanya jatuh berkali-kali..
Hujan itu pengertian..
Datang saat penduduk bumi merasa gerah akan panasnya mentari..
Menyuburkan tanaman yang sudah layu..
Dan mengisi sungai yang mulai kering akibat kemarau..
Lantas..
Pantaskah kita membenci HUJAN ??
Hujan datang tak meminta balasan..
Kenapa kita membencinya ??
Jalanan becek bukanlah kesalahannya..
Dia hanya menegur kita,
Agar berhati-hati melaluinya..
Terjebak hujan..
Bukanlah inginnya,
Dia mengingatkan kita..
Agar merasakan nikmatnya ketika ia datang..
Karna.. HUJAN..
Tahu apa yang kita inginkan..
Tanpa kita sadari..
Dan tak pernah menghargai keberadaannya...